Tampilkan postingan dengan label Cinta Karena Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Karena Allah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

Pujilah Istrimu

Salah satu yang dilupakan dalam hubungan suami istri adalah saling memuji satu dan lainnya. Istri lupa memuji suami dan suami lupa memuji istrinya. Karena pujian seperti ini bisa membangkitkan hubungan yang mungkin makin redup.
Pujian pada istri adalah bagian dari berbuat maruf yang diperintahkan dalam ayat,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).
Pujian pada istri tanda baiknya seorang suami padanya. Apalagi melihat perjuangan istri di rumah dengan mendidik anak dan mengurus berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci, memasak dan memperhatikan kebutuhan suami.
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)
Berbuat ma’ruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh hak istri.
Lihatlah contoh Nabi kita, beliau memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya kemerah-merahan. Karena putihnya ‘Aisyah, jadi pipinya biasa nampak kemerah-merahan.
Dari ‘Aisyah, ia berkata,
دَخَلَ الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي
Orang-orang Habasyah (Ethiopia) pernah masuk ke dalam masjid untuk bermain, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?” (HR. An Nasai dalam Al Kubro 5: 307).
Lihatlah bagaimana panggilan sayang tetap melekat pada suri tauladan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi bukan kata-kata jelek atau merendahkan yang keluar dari mulut seorang suami.
Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Pujian dari suami pada istrinya tidak butuh biaya atau ongkos mahal. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada pasangan. Memberi pujian dapat diungkapkan dengan kalimat-kalimat ringan, seperti: “Masakan Sayang hari ini luar biasa, loh!”
Masa dengan pekerjaan istri yang begitu berat di rumah tidak ada satu pun pujian dari suami yang disematkan untuknya, walau dengan memuji masakan, sifat rajin, atau penampilan cantinya.
Ingatlah bahwa pujian sangat signifikan berpengaruh terhadap perasaan pasangan, khususnya bagi istri yang akan merasa dihargai, dipercayai dan dihormati oleh suaminya. Tanpa pujian atau perhatian, mungkin yang ada hanya kecenderungan untuk saling mencela dan merendahkan pasangan.
Semoga dengan kata pujian yang tulus dari hati semakin merekatkan hubungan mesra yang ada.

֎֎֎


Minggu, 04 Januari 2015

PESAN UNTUK PARA SUAMI (dan CALON SUAMI)

“Dalam hadits ini, terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya. Karena, istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan yang mulia, akhlak yang baik, perbuatan yang baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. 

Jika seorang pria bersikap demikian maka ia adalah orang yang paling baik, namun jika sebaliknya maka ia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan. Banyak orang yang terjatuh ke dalam kesalahan ini. Inilah penjelasan Muhammad bin Ali Asy-Syaukani dari hadits di gambar tulisan ini.

Engkau melihat seorang pria yang jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang paling buruk akhlaknya, pelit, dan sedikit kebaikannya. Namun, jika ia bertemu dengan orang lain, ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tak diragukan lagi, barangsiapa demikian akhlaknya, ia telah terhalang dari petunjuk Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

Karena kita ingin menjadi yang terbaik, kita harus berusaha untuk selalu tersenyum. Sering-seringlah mengucapkan terima kasih kepada istri. Kalau salah jangan sungkan meminta maaf. Bicaralah dengan kalimat yang santun. Berikan pujian yang bisa memberi semangat. Lakukan yang terbaik untuk membahagiakan hatinya. Semuanya insya Allah
bernilai kebaikan di mata Allah. Bahkan, bercanda dengannya akan dinilai sebagai kebaikan di sisi-Nya.

Rasulullah bersabda, “ Segala sesuatu selain zikrullah
adalah permainan dan kesia-siaan, kecuali empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (memanah), dan seseorang yang berlatih renang.”(HR. AnNasa`i)

Bagaimana kita ingin ibu kita diperlakukan dengan baik oleh ayah kita, seperti itulah hendaknya kita memperlakukan istri kita.

Bagaimana kita ingin kelak suami putri kita berakhlak mulia kepadanya, seperti itulah hendaknya kita berakhlak mulia kepada istri kita.

Memperlakukan bidadari kita dengan akhlak yang baik, untuk hal yang kita senangi, dan kita berusaha memperlakukannya dengan akhlak yang baik pula untuk hal yang tidak kita senangi. Di sinilah tantangannya.

Dalam Surat An-Nisa`, Allah berpesan, “Bergaullah dengan istri-istri kalian secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS. An-Nisa`: 19)

Karenanya, BUAT para calon suami, bersabarlah! Jangan membenci istrimu, meski ada satu atau dua sikap dan ucapannya yang membuatmu tidak senang. Kalau masakan istrimu terlalu asin, jangan lantas membencinya. Bukankah senyumannya selalu meneduhkanmu? Bukankah dia telah menjaga dan merawat anak-anakmu? Jika ada satu atau dua sifat istrimu yang kurang pas, jangan pula membencinya.

Bukankah banyak kebaikan-kebaikan yang sudah diberikannya untukmu? Ingat-ingatlah saat ta’aruf dulu, apa sifat dan kebaikannya yang membuatmu memilihnya? Bukankah itu
lebih besar nilainya dibanding secuil sifat yang tak kau sukai?

Engkau para calon suami, Rasulullah juga berpesan untukmu, “Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah. Jika ia tidak suka satu perangainya maka (bisa jadi) ia ridha dengan perangainya yang lain,” (HR. Muslim).

Jika sifat istrimu yang tak kau suka itu melanggar syariat atau tidak baik di mata Islam maka kewajibanmulah memberinya pengertian.

Ibnu Abbas berkata, “Berikanlah pengetahuan agama kepada mereka (istri dan anak) dan
berikanlah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka…”
Berusahalah memperbaiki akhlaknya dengan cara yang lembut. Dengan keteladanan. Dengan kasih sayang.

Perhatikanlah hal ini wahai suami dan calon suami...

Manfaat Menikah Di Usia Muda

Menikah diusia muda adalah sebuah pilihan terbaik dijaman sekarang yang penuh dengan godaan nafsu dunia.

Dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syabab untuk menikah.

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Syabab biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “pemuda.” Berapakah usianya? Muhammad Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera menikah. Dan kini terbukti, banyak manfaat menikah di usia muda di balik perintah Rasulullah ini.

Berikut adalah beberapa manfaat menikah di usia muda.

1. Lebih terjaga dari dosa

Sebagaimana sabda Rasulullah tersebut, menikah di usia muda itu lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina tangan.

2. Lebih bahagia

Hasil riset National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun.

Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”

3. Lebih puas dalam bercinta

Pasangan yang menikah di usia 20-an cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah lebih lambat. Hasil studi Dana Rotz dari Harvard University pada 2011 menunjukkan, menunda usia menikah empat tahun terkait dengan penurunan satu kali jima’ dalam sebulan.

Sedangkan dalam tingkat kepuasan, menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan, sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat farjinya…”

4. Emosi lebih terkontrol

Menikah di usia muda terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.

5. Lebih mudah meraih kesuksesan

Sebagian orang menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah maupun mencari maisyah. Karenanya tidak mengherankan jika banyak orang-orang yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia 20-an.

6. Lebih baik bagi masa depan anak-anak

Lebih baik bagi masa depan anak-anak di sini bukan berarti menikah di usia muda memungkinkan anak sudah dewasa saat Anda pensiun. Meskipun, hal itu juga bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Namun yang lebih penting dari itu, menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat Anda belum mapan secara ekonomi berarti Anda dapat mendidik anak-anak secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan Anda. Dan jangan sampai anak-anak hanya tahu fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.

Wallahu a’lam bish shawab.

6 Pilar Meraih Kebahagiaan Pernikahan

Untuk bisa meraih kebahagiaan hidup berumah tangga, harus dimulai sejak dari proses pernikahannya.

1. Niat yang benar dan kuat.

Menikahlah dengan niat ibadah, melaksanakan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah Saw. Niat yang ikhlas karena Allah menjadi pondasi kebahagiaan.

2. Persiapan yang cukup.

Bukan sekedar pingin nikah, namun harus memiliki kesiapan secara spiritual, mental, moral, intelektual, finansial serta kesiapan fisik.

3. Proses yang sesuai tuntunan agama.

Kebaikan dan kelurusan proses pernikahan menjadi pilar penting untuk merealisasikan niat ibadah tersebut. Jangan ada pelanggaran dan kemaksiatan sepanjang prosesnya, karena anda tengah menunaikan ibadah.

4. Penjagaan hati selama proses pernikahan.

Kebersihan hati sangat penting untuk memunculkan kebahagiaan dalam kehidupan. Jangan mengotori hati dengan pemuasan syahwat sebelum menikah. Jaga diri, dia belum halal bagi anda sebelum akad nikah.

5. Memilih calon dengan kriteria kebaikan agama.

Jangan terpedaya oleh kecantikan, ketampanan, kekayaan, penampilan dan hal-hal fisik serta materi lainnya. Yang paling utama adalah kebaikan agama yang bisa dilihat dari kebaikan akhlaknya.

6. Komitmen untuk saling menguatkan dalam keimanan, ibadah dan kebaikan.

Suami dan istri harus saling menguatkan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah di atas landasan iman. Mereka memiliki komitmen untuk hidup dalam kebaikan, saling mengingatkan dan menguatkan untuk menegakkan ibadah serta amal kebajikan.

SETIA TERINDAH

Setiap hari, kakek dalam foto itu selalu berkunjung ke sebuah panti tempat istrinya yang menderita parkinson dirawat. Kakek itu sendiri sudah berumur 80 tahun, dan sebagaimana kakek-kakek pada umumnya, kesehatannya sudah banyak menurun.
Meski jarak antara rumah dan panti tersebut terbilang jauh, sang kakek tak pernah sekali pun absen mengunjunginya. Ia tetap berangkat pagi-pagi dari rumahnya demi bertemu dan menghabiskan beberapa jam bersama istri tercintanya, orang yang telah sabar dan setia mendampinginya.

Penasaran dengan rutinitas sang kakek yang selalu menyempatkan datang ke tempat itu, orang yang memotret mereka berdua bertanya apakah istrinya merasa gundah jika ia terlambat datang. Sang kakek menjawab bahwa istrinya sudah tidak bisa lagi mengingatnya. Ia sudah tidak ingat lagi suaminya itu sejak lima tahun yang lalu.

Dengan penuh heran, orang yang memotret itu kembali bertanya, ”Anda masih saja pergi kemari untuk menyuapinya padahal ia sudah tidak mengenal Anda?”

Sambil tersenyum, kakek itu menjawab, ”Dia memang sudah tidak mengenali saya, tetapi saya tetap mengenalinya.”

BUNGKUS dan ISI

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari & mengurus BUNGKUS-nya saja serta
mengabaikan & mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya?.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..
"Keluarga bahagia" itu isinya...

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
"Cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya...

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
"Tidur nyenyak" itu isinya...

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...

"Makan enak" hanya bungkusnya..
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...

"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Kenyataan" itu isinya...

"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...

"Jabatan" hanya bungkusnya..
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya..

"Kharisma" hanya bungkusnya..
"Karakter" itu isinya...

"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...

Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...

Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari
BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..

Janganlah mati-matian mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati.


ROMANTIS ITU . . .

Romantis itu....
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah.Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...

Semoga kita semua dianugerahi keluarga penuh cinta dan bahagia.

AKU SAYANG ENGKAU, ISTRIKU

DR. 'Aid al Qarny menggambarkan tentang istrinya:
Beberapa malam yang lalu, sesaat sebelum aku tidur, aku berada di atas ranjang, aku menoleh ke arah istriku dan aku pandangi bentuk wajahnya sementara ia lagi tidur, aku bergumam dalam hatiku: Malang sekali dia, setelah hidup selama bertahun-tahun bersama kedua orang tua dan keluarganya, ia datang untuk tidur di samping laki-laki yang asing baginya.

Dia tinggalkan rumah orang tuanya. Dia tinggalkan bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Dia tinggalkan bersenang-senang di rumah keluarganya. Sekarang ia datang kepada laki-laki yang menyuruhnya untuk melakukan yang ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar. Dia melayani laki-laki itu sesuai dengan yang diridhai Allah. Semua itu berdasarkan perintah agama, subhanallah......

Dari sini muncul pertanyaan di dalam diriku?! Kenapa sampai gampang bagi sebagian laki-laki untuk memukul istrinya dengan penuh kekerasan, setelah ia meninggalkan rumah keluarganya, kemudian datang kepadanya.
Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki untuk keluar bersama teman-temannya, kemudian ia pergi ke restoran dan ia makan tanpa mempedulikan siapa yang ada di rumahnya?!

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan waktu duduknya di luar rumah lebih banyak dari pada duduk bersama istri dan anak-anaknya?!
Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan rumahnya bagaikan penjara bagi istrinya, tidak ia ajak keluar dan juga tidak ia temani.
Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki membiarkan istrinya tidur, sementara di dalam hatinya ada kegetiran perasaan dan di matanya ada air mata tertahan?!

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki pergi berjalan sementara anak-istrinya ia tinggalkan tanpa peduli dengan nasib mereka selama ia pergi.
Kenapa bisa ringan bagi sebagian laki-laki berlepas diri dari tanggungjawab yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat nanti sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah?!

Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya..."



Ada 4 cara Allah memberi rezeki kpd makhluk-Nya:

1. REZEKI TINGKAT PERTAMA (YANG DIJAMIN OLEH ALLAH)
"Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yg tdk dijamin oleh Allah rezekinya."(QS. 11: 6)
Artinya Allah akan memberikan kesehatan,
makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yg terendah.

2. REZEKI TINGKAT KEDUA
"Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yg telah dikerjakannya" (QS. 53: 39)
Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yg dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yg dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh2, ia akan mendapat lebih banyak. Tdk pandang dia itu muslim atau kafir.

3. REZEKI TINGKAT KETIGA
“... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. 14: 7)

Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang2 yg pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah & mendapat rezeki yg lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yg pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera & tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

4. REZEKI KE EMPAT
(UNTUK ORANG2 BERIMAN DAN BERTAQWA)
".... Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yg bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap2 sesuatu.”

(QS.Ath-Thalaq/65:2-3)
Peringkat rezeki yg ke empat ini adalah rezeki yg istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (orang-orang yg bertaqwa) adalah orang yg benar2 dicintai & dipercaya oleh Allah utk memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah di bumi ini.
Wallaahu alam..

Inginku Sempurnakan Separuh Agamaku

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Kata Imam Ghozali, "Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”


Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, "Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian." Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, "Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…"

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga 'tonjok-tonjokan'….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, "Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…"

Keluarga akrab itu sederhana saja; Kalau suami senang berkunjung ke rumah orang tua isteri dan isteri riang jika berkunjung ke rumah orang tua suami. Kalau suami senang membantu keluarga isterinya dan isteri dengan suka hati membantu keluarga suaminya…

Keluarga terbuka itu sederhana saja; Kalau isteri dengan mudah dapat mengetahui isi kantong dan jumlah uang yang terdapat dalam rekening suami, sedangkan suami dengan mudah mengetahui dan memenuhi kebutuhan isteri untuk keperluan diri dan urusan rumahtangganya…

Keluarga cinta ilmu itu sederhana saja, jika suami senang isterinya suka mengaji dan suka hati mengantarkannya ke pengajian walau melelahkan, sedangkan isteri tidak menggerutu jika suami pulang malam karena menghadiri pengajian atau mereka datang bersama-sama ke pengajian..

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dapat memahami jika sewaktu-waktu sang isteri tidak dapat menunaikan kewajiban yang menjadi haknya dan isteripun mau mengerti kalau sewaktu-waktu sang suami tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan isterinya…

Keluarga akur itu sederhana saja; Jika isteri dengan mudah dapat mengetahui posisi suami dan apa yang dia kerjakan tanpa suami merasa 'dibuntuti' sedangkan isteri merasa selalu perlu izin suami jika ingin pergi tanpa merasa dikuasai...

Keluarga tenang itu sederhana saja, kalau marahnya suami kepada isteri tidak berujung sumpah serapah dan tidak melupakan kewajibannya terhadap isteri dan marahnya isteri terhadap suami tidak berujung kata-kata keji dan tidak mengabaikan kewajibanya terhadap suami.

Keluarga aktif itu sederhana saja, jika suami merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan aktifitas isteri di luar rumah karena sudah dia ketahui positifnya sedangkan isteri juga merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan akifitas suami di luar rumah karena sudah disadari kedudukan dan manfaatnya.

Senin, 29 Desember 2014

Seorang pemuda berkata :

"Wanita itu seperti sandal jepit, ia akan diganti dan dibuang saat ditemukan sandal lain yang lebih bagus dan pas."

Mendengar hal itu, kakek tua yang duduk di sebelahnya berkata,

"Benar, wanita itu memang seperti sandal jepit, itu karena engkau menganggap dirimu sebagai kaki, alias ceker!"

"Tapi bagiku, wanita itu seperti Mahkota, yang kuletakkan di atas kepala, kuhormati, kurawat dan kujaga sepenuh hati, takkan pernah kuganti."

"Itu karena aku menganggap diriku sebagai Raja."

Yap....betul, Sesungguhnya, saat seseorang memperlakukan orang lain dg
n buruk, karena ia menganggap dirinya sendiri juga buruk.

Sesungguhnya, manusia tanpa kaki masih bisa hidup, tapi tanpa kepala ia takkan lagi bernyawa.

Untuk para wanita, jadikanlah dirimu seperti Mahkota dengan menjaga Kehormatan & Kesucianmu dari perbuatan nista.

Untuk para pria, hormatilah wanita sebagaimana kamu menghormati Ibumu.

Subhanallah...

Percakapan Sang Ustadz dan Seorang Pemuda

Pemuda : Uztadz, saya ingin mencari seorang istri buat pendamping hidup saya.

Ustadz : istri seperti apa yang anda inginkan? (tanya ustadz sambil tersenyum)

Pemuda : aku ingin punya istri yang cantik, sholehah, kaya, dan sifatnya baik pokoknya.

Ustadz : Sesempurna itu kah..??? Tanya ustadznya.

Pemuda : iya, aq pengen mendapatkan yang sempurna.

Ustadz : apakah anda sendiri sudah sempurna..???

Pemuda : belum ustadz.. Ustadz : lalu kira-kira apakah anda pantas mendapatkan wanita yang sempurna tersebut dan apakah wanita tersebut mau dengan anda..??

Pemuda: ............. (merenung)

Ustadz : lho, ko diem? Tanya ustadz sambil tersenyum

PESAN : Cinta yang sejati adalah ketika kita ikhlas menerima kekurangan dari pasangan kita. Sehingga bisa saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya.




SIKAP SEORANG SUAMI YANG BAIK

Ia tidak banyak menuntut isterinya agar menjadi wanita seperti yang diinginkannya.
Akan tetapi ia lebih banyak memberi contoh yang baik dalam rumah tangganya.
Ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita yang beriman dan bertakwa kepada Allah.
Maka ia terlebih dahulu mencontohkan dirinya sebagai seorang imam yang beriman dan bertakwa kepada Allah.
Ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita penuh hormat kepada dirinya.
Maka ia menjadikan dirinya sebagai seorang imam yang selalu menghargai isterinya.
Ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita selalu setia.
Maka ia memposisikan dirinya sebagai seorang imam yang tidak mudah tergoda kepada wanita lainnya.
Dan ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita penuh kasih sayang dalam keluarganya.
Maka ia menjadikan dirinya sebagai suami yang penuh perhatian kepada isteri dan juga anak-anaknya.
Bagaimanapun seorang ISTERI akan lebih banyak mengikuti apa yang dicontohkan oleh SUAMI dalam kehidupan sehari-harinya.


֎֎֎

Sabtu, 20 Desember 2014

ROMANTIS ITU . . .

Romantis itu....
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.
” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah.Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...

Semoga kita semua dianugerahi keluarga penuh cinta dan bahagia.

BUNGKUS dan ISI

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari & mengurus BUNGKUS-nya saja serta mengabaikan & mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya?.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..

"Keluarga bahagia" itu isinya...

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
"Cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya...

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
"Tidur nyenyak" itu isinya...

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...

"Makan enak" hanya bungkusnya..
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...

"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Kenyataan" itu isinya...

"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...

"Jabatan" hanya bungkusnya..
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya..

"Kharisma" hanya bungkusnya..
"Karakter" itu isinya...

"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...
Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...

Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari
BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..

Janganlah mati-matian mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati.

KALAU AKAD SUDAH TERUCAP

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri. Dulu, kita mungkin bisa bebas di rumah atau kontrakan kita, karena memang ‘manusianya’ cuma kita. Tapi, sekarang ada 
sosok istri yang menemani. Jadi, berusahalah meski dengan cara sederhana untuk memberi bukti bahwa kita sungguh-sungguh mencintainya. Menambal pakaian sendiri, menyiapkan makanan sendiri, melayani diri sendiri, atau membantu tugas istri, misalnya. Tunjukkan bukti cinta, bukan janji. Bukankah seperti itu teladan Rasul?

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri.
Ada kekasih yang selalu memperhatikan kita. Karenanya, kita harus berusaha berpenampilan menawan untuknya, seperti Rasulullah yang selalu berpenampilan baik, khususnya bagi sang istri. Perhatikan pula kebersihan diri kita. Perhatikan kebersihan gigi dan kesegaran mulut kita. Gunakan parfum untuk menghilangkan bau-bau tak sedap. Perhatikan kerapian dan keindahan pakaian, rambut, dan seluruh penampilan kita. Kita tentu senang berpenampilan bagus untuk kekasih kita, sebagaimana kita senang dia berpenampilan bagus untuk kita.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan punya teman
yang selalu menyertai. Berusahalah untuk bersikap baik kepada pasangan kita. Teladanilah Rasulullah, manusia yang mengajarkan kita untuk berakhlak sebaik mungkin kepada pasangannya. Lembutkan cara kita berbicara, haluskan budi pekerti kita, dan sunggingkan selalu senyum kepadanya.
Berusahalah untuk mempersembahkan kebaikan kepada
kekasihmu.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan memiliki teman
yang selalu menanti. Karenanya, mulai saat ini, biasakan untuk selalu memberinya kabar. Kalau kita pulang larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, berilah ia kabar. SMS pun nggak apa, kalau telepon nggak sempat. Sebab kalau nggak, dia bisa susah tidur karena mencemaskan kita. Kalau harus keluar kota beberapa hari, berilah kabar dan hubungi dia selalu.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki kekasih yang
romantis. Teladanilah Rasulullah, orang paling romantis yang pernah hidup di muka bumi. Seorang suami yang makan daging dari bekas gigitan istrinya, minum di sisi gelas yang sama dengannya, meletakkan lututnya sebagai tangga bagi istrinya yang akan menaiki unta, sebelum beliau sendiri naik ke atas tunggangannya.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki partner
untuk berbagi ceria. Kita rela mengorbankan waktu demi melihatnya bahagia. Sesekali, ajaklah pasangan kita untuk
berlomba dan bercanda. Bukankah dulu Rasulullah pernah
mengajak istrinya berlomba lari? Sesekali, ajaklah pasangan kita melihat hiburan yang diperbolehkan. Bukankah Rasulullah pernah mengajak istrinya melihat permainan anak-anak Habasyah? Bercanda dan bermain perlu kita lakukan agar cinta dan kasih sayang antara kita terus berkembang.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki sahabat
untuk berbagi. Mulai saat ini, ada telinga yang selalu siap mendengarkan keluh kesah kita tentang dunia, sehingga perasaan kita kembali lega. Ada hati untuk mencurahkan perasaan kita, sehingga kesedihan kita sedikit demi sedikit akan terobati. Ada bahu tempat kita bersandar dan meletakkan
sejenak gejolak jiwa, sehingga sedikit demi sedikit menjadi
reda. Untuk para istri, berusaha meneladani istri-istri Rasulullah. Kuatkan hati para suami yang sedang cemas hatinya, seperti Khadijah yang menguatkan hati Rasulullah saat menerima wahyu pertama. Berikan saran ketika suami sedang bingung dengan persoalannya, seperti Ummu Salamah yang memberi saran kepada Rasulullah dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Kalau akad sudah terucap maka kita punya pekerjaan baru:
membangun surga bersama pasangan kita. Menyusun bata demi bata, menegakkan pilar demi pilar, dan memasang atap dan pagar untuk keluarga kecil kita. Itulah surga kita. Karena ini pekerjaan ukhrawi, murnikanlah niat kita. Karena ini pekerjaan berat, berdoalah senantiasa kepada Tuhan kita. Karena ini pekerjaan rumit, teladanilah selalu kehidupan Rasulullah. Semoga Allah menurunkan berkah yang melimpah bagi rumah tangga kita. Amin!

PESAN UNTUK PARA SUAMI (dan CALON SUAMI)

“Dalam hadits ini, terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya. Karena, istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan yang mulia, akhlak yang baik, perbuatan yang baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. 

Jika seorang pria bersikap demikian maka ia adalah orang yang paling baik, namun jika sebaliknya maka ia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan. Banyak orang yang terjatuh ke dalam kesalahan ini. Inilah penjelasan Muhammad bin Ali Asy-Syaukani dari hadits di gambar tulisan ini.

Engkau melihat seorang pria yang jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang paling buruk akhlaknya, pelit, dan sedikit kebaikannya. Namun, jika ia bertemu dengan orang lain, ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tak diragukan lagi, barangsiapa demikian akhlaknya, ia telah terhalang dari petunjuk Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

Karena kita ingin menjadi yang terbaik, kita harus berusaha untuk selalu tersenyum. Sering-seringlah mengucapkan terima kasih kepada istri. Kalau salah jangan sungkan meminta maaf. Bicaralah dengan kalimat yang santun. Berikan pujian yang bisa memberi semangat. Lakukan yang terbaik untuk membahagiakan hatinya. Semuanya insya Allah
bernilai kebaikan di mata Allah. Bahkan, bercanda dengannya akan dinilai sebagai kebaikan di sisi-Nya.

Rasulullah bersabda, “ Segala sesuatu selain zikrullah
adalah permainan dan kesia-siaan, kecuali empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (memanah), dan seseorang yang berlatih renang.”(HR. AnNasa`i)

Bagaimana kita ingin ibu kita diperlakukan dengan baik oleh ayah kita, seperti itulah hendaknya kita memperlakukan istri kita.

Bagaimana kita ingin kelak suami putri kita berakhlak mulia kepadanya, seperti itulah hendaknya kita berakhlak mulia kepada istri kita.

Memperlakukan bidadari kita dengan akhlak yang baik, untuk hal yang kita senangi, dan kita berusaha memperlakukannya dengan akhlak yang baik pula untuk hal yang tidak kita senangi. Di sinilah tantangannya.

Dalam Surat An-Nisa`, Allah berpesan, “Bergaullah dengan istri-istri kalian secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS. An-Nisa`: 19)

Karenanya, BUAT para calon suami, bersabarlah! Jangan membenci istrimu, meski ada satu atau dua sikap dan ucapannya yang membuatmu tidak senang. Kalau masakan istrimu terlalu asin, jangan lantas membencinya. Bukankah senyumannya selalu meneduhkanmu? Bukankah dia telah menjaga dan merawat anak-anakmu? Jika ada satu atau dua sifat istrimu yang kurang pas, jangan pula membencinya.

Bukankah banyak kebaikan-kebaikan yang sudah diberikannya untukmu? Ingat-ingatlah saat ta’aruf dulu, apa sifat dan kebaikannya yang membuatmu memilihnya? Bukankah itu
lebih besar nilainya dibanding secuil sifat yang tak kau sukai?

Engkau para calon suami, Rasulullah juga berpesan untukmu, “Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah. Jika ia tidak suka satu perangainya maka (bisa jadi)
ia ridha dengan perangainya yang lain,” (HR. Muslim).

Jika sifat istrimu yang tak kau suka itu melanggar syariat atau tidak baik di mata Islam maka kewajibanmulah memberinya pengertian.

Ibnu Abbas berkata, “Berikanlah pengetahuan agama kepada mereka (istri dan anak) dan
berikanlah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka…”
Berusahalah memperbaiki akhlaknya dengan cara yang lembut. Dengan keteladanan. Dengan kasih sayang.

Perhatikanlah hal ini wahai suami dan calon suami...

6 Pilar Meraih Kebahagiaan Pernikahan

Untuk bisa meraih kebahagiaan hidup berumah tangga, harus dimulai sejak dari proses pernikahannya.

1. Niat yang benar dan kuat.

Menikahlah dengan niat ibadah, melaksanakan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah Saw. Niat yang ikhlas karena Allah menjadi pondasi kebahagiaan.

2. Persiapan yang cukup.

Bukan sekedar pingin nikah, namun harus memiliki kesiapan secara spiritual, mental, moral, intelektual, finansial serta kesiapan fisik.

3. Proses yang sesuai tuntunan agama.

Kebaikan dan kelurusan proses pernikahan menjadi pilar penting untuk merealisasikan niat ibadah tersebut. Jangan ada pelanggaran dan kemaksiatan sepanjang prosesnya, karena anda tengah menunaikan ibadah.

4. Penjagaan hati selama proses pernikahan.

Kebersihan hati sangat penting untuk memunculkan kebahagiaan dalam kehidupan. Jangan mengotori hati dengan pemuasan syahwat sebelum menikah. Jaga diri, dia belum halal bagi anda sebelum akad nikah.

5. Memilih calon dengan kriteria kebaikan agama.

Jangan terpedaya oleh kecantikan, ketampanan, kekayaan, penampilan dan hal-hal fisik serta materi lainnya. Yang paling utama adalah kebaikan agama yang bisa dilihat dari kebaikan akhlaknya.

6. Komitmen untuk saling menguatkan dalam keimanan, ibadah dan kebaikan.

Suami dan istri harus saling menguatkan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah di atas landasan iman. Mereka memiliki komitmen untuk hidup dalam kebaikan, saling mengingatkan dan menguatkan untuk menegakkan ibadah serta amal kebajikan.



Sabtu, 22 November 2014

Sesungguhnya Amal dan Perbuatan itu Tergantung dari Niat

Bismillahir Rahmannir Rahim

Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya orang yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat ialah seorang syuhada (orang yang mati syahid ), dia akan dihadapkan kepada Allah. Maka Allah akan memperlihatkan kenikmatan Nya dan diapun mengakui kenikmatan itu. Allah bertanya,” Karena apa kamu berbuat demikian ?”.
Dia menjawab, “ Saya berperang karena Mu, sehingga saya gugur syahid”. Jika dia seorang munafik,Allah berfirman,” Kamu dusta ! Kamu berperang karena ingin disebut pahlawan.” Maka diperintahkan agar orang itu diseret wajahnya kemudian dilemparkan kedalam neraka.

Kemudian orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agama dan orang yang suka membaca Al Qur’an dihadapkan kepada Allah. Maka Allah akan memperlihatkan kenikmatan kenikmatan Nya dan diapun mengakuinya. Allah bertanya,” Karena apa kamu berbuat demikian ?” Dia menjawab,” Saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al Qur’an semata – mata kerena Engkau”. Jika dia seorang munafik, Allah berfirman,” Kamu dusta ! Kamu mempelajari ilmu dan mengajarkannya supaya disebut ulama. Dan kamu membaca Al Qur’an supaya dipanggil Qori’ dan kamu sudah mendapatkannya !”. Kemudian diperintahkan agar orang itu diseret wajahnya dan dicampakkan kedalam api neraka.

Dan terakhir, seorang yang dikaruniai harta kekayaan oleh Allah. Maka Allah memperlihatkan kenikmatan kenikmatan Nya dan diapun mengakui kenikmatan kenikmatan itu. Allah bertanya,” Apa yang telah kamu lakukan dengan harta kekayaanmu itu ?” Dia menjawab,” Saya tidak membiarkan satu jalanpun yang pantas diberi infak, kecuali saya infakkan harta saya semata mata karena Engkau.” Jika dia seorang munafik, Allah berfirman,” Kamu dusta ! kamu berbuat demikian supaya kamu dipanggil dermawan, dan kamu sudah mendapatkannya.” Maka diperintahkan agar orang orang itu diseret wajahnya kemudian dicampakkan ke dalam neraka.” ( HR Imam Muslim dalam kitab Misykat )

Na’udzubillah…

So, sekecil apapun amalan kita, maka niatkanlah hanya semata-mata karena Allah SWT..

Ya Allah, Jangan Pisahkan Hati Kami

Ya ALLAH..
Jika benar dia adalah yang terbaik untukku, satukanlah aku dan dia sampai akhir hayat kami. Jika dia yang terbaik untukku, kekalkanlah hingga keakhir nafas kami. Dan dekatkanlah hatiku dengan hatinya. Andai telah ditakdirkan dia jodohku, maka dia aku terima seadanya..

LoveuKomarudinRomadona
Tampilkan postingan dengan label Cinta Karena Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Karena Allah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2015

Pujilah Istrimu

Salah satu yang dilupakan dalam hubungan suami istri adalah saling memuji satu dan lainnya. Istri lupa memuji suami dan suami lupa memuji istrinya. Karena pujian seperti ini bisa membangkitkan hubungan yang mungkin makin redup.
Pujian pada istri adalah bagian dari berbuat maruf yang diperintahkan dalam ayat,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri kalian) dengan baik.” (QS. An Nisa’: 19).
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah: 228).
Pujian pada istri tanda baiknya seorang suami padanya. Apalagi melihat perjuangan istri di rumah dengan mendidik anak dan mengurus berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci, memasak dan memperhatikan kebutuhan suami.
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
Sebaik-baik kalian adalah yang berbuat baik kepada keluarganya. Sedangkan aku adalah orang yang paling berbuat baik pada keluargaku” (HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977, Ad Darimi 2: 212, Ibnu Hibban 9: 484. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata mengenai surat An Nisa’ ayat 19 di atas, “Berkatalah yang baik kepada istri kalian, perbaguslah amalan dan tingkah laku kalian kepada istri. Berbuat baiklah sebagai engkau suka jika istri kalian bertingkah laku demikian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 400)
Berbuat ma’ruf adalah kalimat yang sifatnya umum, tercakup di dalamnya seluruh hak istri.
Lihatlah contoh Nabi kita, beliau memanggil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sang istri tercinta dengan panggilan Humaira, artinya wahai yang pipinya kemerah-merahan. Karena putihnya ‘Aisyah, jadi pipinya biasa nampak kemerah-merahan.
Dari ‘Aisyah, ia berkata,
دَخَلَ الحَبَشَةُ المسْجِدَ يَلْعَبُوْنَ فَقَالَ لِي يَا حُمَيْرَاء أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِي
Orang-orang Habasyah (Ethiopia) pernah masuk ke dalam masjid untuk bermain, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku, “Wahai Humaira (artinya: yang pipinya kemerah-merahan), apakah engkau ingin melihat mereka?” (HR. An Nasai dalam Al Kubro 5: 307).
Lihatlah bagaimana panggilan sayang tetap melekat pada suri tauladan kita yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi bukan kata-kata jelek atau merendahkan yang keluar dari mulut seorang suami.
Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ
Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan-, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasehat) selain di rumah” (HR. Abu Daud no. 2142. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Pujian dari suami pada istrinya tidak butuh biaya atau ongkos mahal. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada pasangan. Memberi pujian dapat diungkapkan dengan kalimat-kalimat ringan, seperti: “Masakan Sayang hari ini luar biasa, loh!”
Masa dengan pekerjaan istri yang begitu berat di rumah tidak ada satu pun pujian dari suami yang disematkan untuknya, walau dengan memuji masakan, sifat rajin, atau penampilan cantinya.
Ingatlah bahwa pujian sangat signifikan berpengaruh terhadap perasaan pasangan, khususnya bagi istri yang akan merasa dihargai, dipercayai dan dihormati oleh suaminya. Tanpa pujian atau perhatian, mungkin yang ada hanya kecenderungan untuk saling mencela dan merendahkan pasangan.
Semoga dengan kata pujian yang tulus dari hati semakin merekatkan hubungan mesra yang ada.

֎֎֎


Minggu, 04 Januari 2015

PESAN UNTUK PARA SUAMI (dan CALON SUAMI)

“Dalam hadits ini, terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya. Karena, istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan yang mulia, akhlak yang baik, perbuatan yang baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. 

Jika seorang pria bersikap demikian maka ia adalah orang yang paling baik, namun jika sebaliknya maka ia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan. Banyak orang yang terjatuh ke dalam kesalahan ini. Inilah penjelasan Muhammad bin Ali Asy-Syaukani dari hadits di gambar tulisan ini.

Engkau melihat seorang pria yang jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang paling buruk akhlaknya, pelit, dan sedikit kebaikannya. Namun, jika ia bertemu dengan orang lain, ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tak diragukan lagi, barangsiapa demikian akhlaknya, ia telah terhalang dari petunjuk Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

Karena kita ingin menjadi yang terbaik, kita harus berusaha untuk selalu tersenyum. Sering-seringlah mengucapkan terima kasih kepada istri. Kalau salah jangan sungkan meminta maaf. Bicaralah dengan kalimat yang santun. Berikan pujian yang bisa memberi semangat. Lakukan yang terbaik untuk membahagiakan hatinya. Semuanya insya Allah
bernilai kebaikan di mata Allah. Bahkan, bercanda dengannya akan dinilai sebagai kebaikan di sisi-Nya.

Rasulullah bersabda, “ Segala sesuatu selain zikrullah
adalah permainan dan kesia-siaan, kecuali empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (memanah), dan seseorang yang berlatih renang.”(HR. AnNasa`i)

Bagaimana kita ingin ibu kita diperlakukan dengan baik oleh ayah kita, seperti itulah hendaknya kita memperlakukan istri kita.

Bagaimana kita ingin kelak suami putri kita berakhlak mulia kepadanya, seperti itulah hendaknya kita berakhlak mulia kepada istri kita.

Memperlakukan bidadari kita dengan akhlak yang baik, untuk hal yang kita senangi, dan kita berusaha memperlakukannya dengan akhlak yang baik pula untuk hal yang tidak kita senangi. Di sinilah tantangannya.

Dalam Surat An-Nisa`, Allah berpesan, “Bergaullah dengan istri-istri kalian secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS. An-Nisa`: 19)

Karenanya, BUAT para calon suami, bersabarlah! Jangan membenci istrimu, meski ada satu atau dua sikap dan ucapannya yang membuatmu tidak senang. Kalau masakan istrimu terlalu asin, jangan lantas membencinya. Bukankah senyumannya selalu meneduhkanmu? Bukankah dia telah menjaga dan merawat anak-anakmu? Jika ada satu atau dua sifat istrimu yang kurang pas, jangan pula membencinya.

Bukankah banyak kebaikan-kebaikan yang sudah diberikannya untukmu? Ingat-ingatlah saat ta’aruf dulu, apa sifat dan kebaikannya yang membuatmu memilihnya? Bukankah itu
lebih besar nilainya dibanding secuil sifat yang tak kau sukai?

Engkau para calon suami, Rasulullah juga berpesan untukmu, “Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah. Jika ia tidak suka satu perangainya maka (bisa jadi) ia ridha dengan perangainya yang lain,” (HR. Muslim).

Jika sifat istrimu yang tak kau suka itu melanggar syariat atau tidak baik di mata Islam maka kewajibanmulah memberinya pengertian.

Ibnu Abbas berkata, “Berikanlah pengetahuan agama kepada mereka (istri dan anak) dan
berikanlah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka…”
Berusahalah memperbaiki akhlaknya dengan cara yang lembut. Dengan keteladanan. Dengan kasih sayang.

Perhatikanlah hal ini wahai suami dan calon suami...

Manfaat Menikah Di Usia Muda

Menikah diusia muda adalah sebuah pilihan terbaik dijaman sekarang yang penuh dengan godaan nafsu dunia.

Dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syabab untuk menikah.

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Syabab biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “pemuda.” Berapakah usianya? Muhammad Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera menikah. Dan kini terbukti, banyak manfaat menikah di usia muda di balik perintah Rasulullah ini.

Berikut adalah beberapa manfaat menikah di usia muda.

1. Lebih terjaga dari dosa

Sebagaimana sabda Rasulullah tersebut, menikah di usia muda itu lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina tangan.

2. Lebih bahagia

Hasil riset National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun.

Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”

3. Lebih puas dalam bercinta

Pasangan yang menikah di usia 20-an cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah lebih lambat. Hasil studi Dana Rotz dari Harvard University pada 2011 menunjukkan, menunda usia menikah empat tahun terkait dengan penurunan satu kali jima’ dalam sebulan.

Sedangkan dalam tingkat kepuasan, menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan, sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat farjinya…”

4. Emosi lebih terkontrol

Menikah di usia muda terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.

5. Lebih mudah meraih kesuksesan

Sebagian orang menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah maupun mencari maisyah. Karenanya tidak mengherankan jika banyak orang-orang yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia 20-an.

6. Lebih baik bagi masa depan anak-anak

Lebih baik bagi masa depan anak-anak di sini bukan berarti menikah di usia muda memungkinkan anak sudah dewasa saat Anda pensiun. Meskipun, hal itu juga bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Namun yang lebih penting dari itu, menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat Anda belum mapan secara ekonomi berarti Anda dapat mendidik anak-anak secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan Anda. Dan jangan sampai anak-anak hanya tahu fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.

Wallahu a’lam bish shawab.

6 Pilar Meraih Kebahagiaan Pernikahan

Untuk bisa meraih kebahagiaan hidup berumah tangga, harus dimulai sejak dari proses pernikahannya.

1. Niat yang benar dan kuat.

Menikahlah dengan niat ibadah, melaksanakan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah Saw. Niat yang ikhlas karena Allah menjadi pondasi kebahagiaan.

2. Persiapan yang cukup.

Bukan sekedar pingin nikah, namun harus memiliki kesiapan secara spiritual, mental, moral, intelektual, finansial serta kesiapan fisik.

3. Proses yang sesuai tuntunan agama.

Kebaikan dan kelurusan proses pernikahan menjadi pilar penting untuk merealisasikan niat ibadah tersebut. Jangan ada pelanggaran dan kemaksiatan sepanjang prosesnya, karena anda tengah menunaikan ibadah.

4. Penjagaan hati selama proses pernikahan.

Kebersihan hati sangat penting untuk memunculkan kebahagiaan dalam kehidupan. Jangan mengotori hati dengan pemuasan syahwat sebelum menikah. Jaga diri, dia belum halal bagi anda sebelum akad nikah.

5. Memilih calon dengan kriteria kebaikan agama.

Jangan terpedaya oleh kecantikan, ketampanan, kekayaan, penampilan dan hal-hal fisik serta materi lainnya. Yang paling utama adalah kebaikan agama yang bisa dilihat dari kebaikan akhlaknya.

6. Komitmen untuk saling menguatkan dalam keimanan, ibadah dan kebaikan.

Suami dan istri harus saling menguatkan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah di atas landasan iman. Mereka memiliki komitmen untuk hidup dalam kebaikan, saling mengingatkan dan menguatkan untuk menegakkan ibadah serta amal kebajikan.

SETIA TERINDAH

Setiap hari, kakek dalam foto itu selalu berkunjung ke sebuah panti tempat istrinya yang menderita parkinson dirawat. Kakek itu sendiri sudah berumur 80 tahun, dan sebagaimana kakek-kakek pada umumnya, kesehatannya sudah banyak menurun.
Meski jarak antara rumah dan panti tersebut terbilang jauh, sang kakek tak pernah sekali pun absen mengunjunginya. Ia tetap berangkat pagi-pagi dari rumahnya demi bertemu dan menghabiskan beberapa jam bersama istri tercintanya, orang yang telah sabar dan setia mendampinginya.

Penasaran dengan rutinitas sang kakek yang selalu menyempatkan datang ke tempat itu, orang yang memotret mereka berdua bertanya apakah istrinya merasa gundah jika ia terlambat datang. Sang kakek menjawab bahwa istrinya sudah tidak bisa lagi mengingatnya. Ia sudah tidak ingat lagi suaminya itu sejak lima tahun yang lalu.

Dengan penuh heran, orang yang memotret itu kembali bertanya, ”Anda masih saja pergi kemari untuk menyuapinya padahal ia sudah tidak mengenal Anda?”

Sambil tersenyum, kakek itu menjawab, ”Dia memang sudah tidak mengenali saya, tetapi saya tetap mengenalinya.”

BUNGKUS dan ISI

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari & mengurus BUNGKUS-nya saja serta
mengabaikan & mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya?.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..
"Keluarga bahagia" itu isinya...

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
"Cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya...

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
"Tidur nyenyak" itu isinya...

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...

"Makan enak" hanya bungkusnya..
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...

"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Kenyataan" itu isinya...

"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...

"Jabatan" hanya bungkusnya..
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya..

"Kharisma" hanya bungkusnya..
"Karakter" itu isinya...

"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...

Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...

Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari
BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..

Janganlah mati-matian mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati.


ROMANTIS ITU . . .

Romantis itu....
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah.Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...

Semoga kita semua dianugerahi keluarga penuh cinta dan bahagia.

AKU SAYANG ENGKAU, ISTRIKU

DR. 'Aid al Qarny menggambarkan tentang istrinya:
Beberapa malam yang lalu, sesaat sebelum aku tidur, aku berada di atas ranjang, aku menoleh ke arah istriku dan aku pandangi bentuk wajahnya sementara ia lagi tidur, aku bergumam dalam hatiku: Malang sekali dia, setelah hidup selama bertahun-tahun bersama kedua orang tua dan keluarganya, ia datang untuk tidur di samping laki-laki yang asing baginya.

Dia tinggalkan rumah orang tuanya. Dia tinggalkan bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Dia tinggalkan bersenang-senang di rumah keluarganya. Sekarang ia datang kepada laki-laki yang menyuruhnya untuk melakukan yang ma'ruf dan meninggalkan yang mungkar. Dia melayani laki-laki itu sesuai dengan yang diridhai Allah. Semua itu berdasarkan perintah agama, subhanallah......

Dari sini muncul pertanyaan di dalam diriku?! Kenapa sampai gampang bagi sebagian laki-laki untuk memukul istrinya dengan penuh kekerasan, setelah ia meninggalkan rumah keluarganya, kemudian datang kepadanya.
Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki untuk keluar bersama teman-temannya, kemudian ia pergi ke restoran dan ia makan tanpa mempedulikan siapa yang ada di rumahnya?!

Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan waktu duduknya di luar rumah lebih banyak dari pada duduk bersama istri dan anak-anaknya?!
Kenapa ringan bagi sebagian laki-laki menjadikan rumahnya bagaikan penjara bagi istrinya, tidak ia ajak keluar dan juga tidak ia temani.
Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki membiarkan istrinya tidur, sementara di dalam hatinya ada kegetiran perasaan dan di matanya ada air mata tertahan?!

Bagaimana bisa gampang bagi sebagian laki-laki pergi berjalan sementara anak-istrinya ia tinggalkan tanpa peduli dengan nasib mereka selama ia pergi.
Kenapa bisa ringan bagi sebagian laki-laki berlepas diri dari tanggungjawab yang akan ia pertanggungjawabkan di akhirat nanti sebagaimana yang di sampaikan oleh Rasulullah?!

Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya..."



Ada 4 cara Allah memberi rezeki kpd makhluk-Nya:

1. REZEKI TINGKAT PERTAMA (YANG DIJAMIN OLEH ALLAH)
"Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yg tdk dijamin oleh Allah rezekinya."(QS. 11: 6)
Artinya Allah akan memberikan kesehatan,
makan, minum untuk seluruh makhluk hidup di dunia ini. Ini adalah rezeki dasar yg terendah.

2. REZEKI TINGKAT KEDUA
"Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yg telah dikerjakannya" (QS. 53: 39)
Allah akan memberikan rezeki sesuai dengan apa yg dikerjakannya. Jika ia bekerja dua jam, dapatlah hasil yg dua jam. Jika kerja lebih lama, lebih rajin, lebih berilmu, lebih sungguh2, ia akan mendapat lebih banyak. Tdk pandang dia itu muslim atau kafir.

3. REZEKI TINGKAT KETIGA
“... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. 14: 7)

Inilah rezeki yang disayang Allah. Orang2 yg pandai bersyukur akan dapat merasakan kasih sayang Allah & mendapat rezeki yg lebih banyak. Itulah Janji Allah! Orang yg pandai bersyukurlah yg dapat hidup bahagia, sejahtera & tentram. Usahanya akan sangat sukses, karena Allah tambahkan selalu.

4. REZEKI KE EMPAT
(UNTUK ORANG2 BERIMAN DAN BERTAQWA)
".... Barangsiapa yg bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yg bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap2 sesuatu.”

(QS.Ath-Thalaq/65:2-3)
Peringkat rezeki yg ke empat ini adalah rezeki yg istimewa, tidak semua orang bisa meraihnya. Orang istimewa ini (orang-orang yg bertaqwa) adalah orang yg benar2 dicintai & dipercaya oleh Allah utk memakmurkan atau mengatur kekayaan Allah di bumi ini.
Wallaahu alam..

Inginku Sempurnakan Separuh Agamaku

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Kata Imam Ghozali, "Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”


Keluarga Bahagia Itu Sederhana Saja

Keluarga mesra itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat bilang sama isterinya, "Bu pijitin bapak dong.. pegel neh kerja seharian." Sementara sang isteri di lain waktu juga dapat dengan ringan bilang, "Pak, pijitan ibu dong, pegel neh seharian bersihin rumah…"

Keluarga rukun itu sederhana saja; Kalau suami tanpa beban dapat melihat akun FB, Twitter atau HP isterinya tanpa isteri merasa dicurigai dan isteri dengan ringan dapat melihat akun FB, Twitter atau HP suaminya tanpa suami merasa dimata-matai….

Keluarga hangat itu sederhana saja; Kalau suami dan isteri dapat ngobrol panjang lebar berduaan dengan tema apa saja, dapat diselingi joke ringan sampai bercanda hingga 'tonjok-tonjokan'….

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dengan tulus memuji masakan isterinya yang sedap sedangkan di lain waktu dengan ringan dapat menegur makanannya yang kurang garam…. Sementara isteri tidak terlalu khawatir jika makanan yang dia sediakan membuat suaminya marah, atau bahkan dengan ringan suatu saat dia mengatakan, "Pak, hari ini ibu tidak masak, kita beli saja yak…"

Keluarga akrab itu sederhana saja; Kalau suami senang berkunjung ke rumah orang tua isteri dan isteri riang jika berkunjung ke rumah orang tua suami. Kalau suami senang membantu keluarga isterinya dan isteri dengan suka hati membantu keluarga suaminya…

Keluarga terbuka itu sederhana saja; Kalau isteri dengan mudah dapat mengetahui isi kantong dan jumlah uang yang terdapat dalam rekening suami, sedangkan suami dengan mudah mengetahui dan memenuhi kebutuhan isteri untuk keperluan diri dan urusan rumahtangganya…

Keluarga cinta ilmu itu sederhana saja, jika suami senang isterinya suka mengaji dan suka hati mengantarkannya ke pengajian walau melelahkan, sedangkan isteri tidak menggerutu jika suami pulang malam karena menghadiri pengajian atau mereka datang bersama-sama ke pengajian..

Keluarga damai itu sederhana saja; Kalau suami dapat memahami jika sewaktu-waktu sang isteri tidak dapat menunaikan kewajiban yang menjadi haknya dan isteripun mau mengerti kalau sewaktu-waktu sang suami tidak dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan isterinya…

Keluarga akur itu sederhana saja; Jika isteri dengan mudah dapat mengetahui posisi suami dan apa yang dia kerjakan tanpa suami merasa 'dibuntuti' sedangkan isteri merasa selalu perlu izin suami jika ingin pergi tanpa merasa dikuasai...

Keluarga tenang itu sederhana saja, kalau marahnya suami kepada isteri tidak berujung sumpah serapah dan tidak melupakan kewajibannya terhadap isteri dan marahnya isteri terhadap suami tidak berujung kata-kata keji dan tidak mengabaikan kewajibanya terhadap suami.

Keluarga aktif itu sederhana saja, jika suami merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan aktifitas isteri di luar rumah karena sudah dia ketahui positifnya sedangkan isteri juga merasa tenang dengan lingkungan pergaulan dan akifitas suami di luar rumah karena sudah disadari kedudukan dan manfaatnya.

Senin, 29 Desember 2014

Seorang pemuda berkata :

"Wanita itu seperti sandal jepit, ia akan diganti dan dibuang saat ditemukan sandal lain yang lebih bagus dan pas."

Mendengar hal itu, kakek tua yang duduk di sebelahnya berkata,

"Benar, wanita itu memang seperti sandal jepit, itu karena engkau menganggap dirimu sebagai kaki, alias ceker!"

"Tapi bagiku, wanita itu seperti Mahkota, yang kuletakkan di atas kepala, kuhormati, kurawat dan kujaga sepenuh hati, takkan pernah kuganti."

"Itu karena aku menganggap diriku sebagai Raja."

Yap....betul, Sesungguhnya, saat seseorang memperlakukan orang lain dg
n buruk, karena ia menganggap dirinya sendiri juga buruk.

Sesungguhnya, manusia tanpa kaki masih bisa hidup, tapi tanpa kepala ia takkan lagi bernyawa.

Untuk para wanita, jadikanlah dirimu seperti Mahkota dengan menjaga Kehormatan & Kesucianmu dari perbuatan nista.

Untuk para pria, hormatilah wanita sebagaimana kamu menghormati Ibumu.

Subhanallah...

Percakapan Sang Ustadz dan Seorang Pemuda

Pemuda : Uztadz, saya ingin mencari seorang istri buat pendamping hidup saya.

Ustadz : istri seperti apa yang anda inginkan? (tanya ustadz sambil tersenyum)

Pemuda : aku ingin punya istri yang cantik, sholehah, kaya, dan sifatnya baik pokoknya.

Ustadz : Sesempurna itu kah..??? Tanya ustadznya.

Pemuda : iya, aq pengen mendapatkan yang sempurna.

Ustadz : apakah anda sendiri sudah sempurna..???

Pemuda : belum ustadz.. Ustadz : lalu kira-kira apakah anda pantas mendapatkan wanita yang sempurna tersebut dan apakah wanita tersebut mau dengan anda..??

Pemuda: ............. (merenung)

Ustadz : lho, ko diem? Tanya ustadz sambil tersenyum

PESAN : Cinta yang sejati adalah ketika kita ikhlas menerima kekurangan dari pasangan kita. Sehingga bisa saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya.




SIKAP SEORANG SUAMI YANG BAIK

Ia tidak banyak menuntut isterinya agar menjadi wanita seperti yang diinginkannya.
Akan tetapi ia lebih banyak memberi contoh yang baik dalam rumah tangganya.
Ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita yang beriman dan bertakwa kepada Allah.
Maka ia terlebih dahulu mencontohkan dirinya sebagai seorang imam yang beriman dan bertakwa kepada Allah.
Ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita penuh hormat kepada dirinya.
Maka ia menjadikan dirinya sebagai seorang imam yang selalu menghargai isterinya.
Ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita selalu setia.
Maka ia memposisikan dirinya sebagai seorang imam yang tidak mudah tergoda kepada wanita lainnya.
Dan ketika seorang suami menginginkan isterinya menjadi wanita penuh kasih sayang dalam keluarganya.
Maka ia menjadikan dirinya sebagai suami yang penuh perhatian kepada isteri dan juga anak-anaknya.
Bagaimanapun seorang ISTERI akan lebih banyak mengikuti apa yang dicontohkan oleh SUAMI dalam kehidupan sehari-harinya.


֎֎֎

Sabtu, 20 Desember 2014

ROMANTIS ITU . . .

Romantis itu....
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.
” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah.Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...

Semoga kita semua dianugerahi keluarga penuh cinta dan bahagia.

BUNGKUS dan ISI

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari & mengurus BUNGKUS-nya saja serta mengabaikan & mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya?.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..

"Keluarga bahagia" itu isinya...

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
"Cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya...

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
"Tidur nyenyak" itu isinya...

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...

"Makan enak" hanya bungkusnya..
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...

"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Kenyataan" itu isinya...

"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...

"Jabatan" hanya bungkusnya..
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya..

"Kharisma" hanya bungkusnya..
"Karakter" itu isinya...

"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...
Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...

Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari
BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..

Janganlah mati-matian mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati.

KALAU AKAD SUDAH TERUCAP

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri. Dulu, kita mungkin bisa bebas di rumah atau kontrakan kita, karena memang ‘manusianya’ cuma kita. Tapi, sekarang ada 
sosok istri yang menemani. Jadi, berusahalah meski dengan cara sederhana untuk memberi bukti bahwa kita sungguh-sungguh mencintainya. Menambal pakaian sendiri, menyiapkan makanan sendiri, melayani diri sendiri, atau membantu tugas istri, misalnya. Tunjukkan bukti cinta, bukan janji. Bukankah seperti itu teladan Rasul?

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri.
Ada kekasih yang selalu memperhatikan kita. Karenanya, kita harus berusaha berpenampilan menawan untuknya, seperti Rasulullah yang selalu berpenampilan baik, khususnya bagi sang istri. Perhatikan pula kebersihan diri kita. Perhatikan kebersihan gigi dan kesegaran mulut kita. Gunakan parfum untuk menghilangkan bau-bau tak sedap. Perhatikan kerapian dan keindahan pakaian, rambut, dan seluruh penampilan kita. Kita tentu senang berpenampilan bagus untuk kekasih kita, sebagaimana kita senang dia berpenampilan bagus untuk kita.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan punya teman
yang selalu menyertai. Berusahalah untuk bersikap baik kepada pasangan kita. Teladanilah Rasulullah, manusia yang mengajarkan kita untuk berakhlak sebaik mungkin kepada pasangannya. Lembutkan cara kita berbicara, haluskan budi pekerti kita, dan sunggingkan selalu senyum kepadanya.
Berusahalah untuk mempersembahkan kebaikan kepada
kekasihmu.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan memiliki teman
yang selalu menanti. Karenanya, mulai saat ini, biasakan untuk selalu memberinya kabar. Kalau kita pulang larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, berilah ia kabar. SMS pun nggak apa, kalau telepon nggak sempat. Sebab kalau nggak, dia bisa susah tidur karena mencemaskan kita. Kalau harus keluar kota beberapa hari, berilah kabar dan hubungi dia selalu.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki kekasih yang
romantis. Teladanilah Rasulullah, orang paling romantis yang pernah hidup di muka bumi. Seorang suami yang makan daging dari bekas gigitan istrinya, minum di sisi gelas yang sama dengannya, meletakkan lututnya sebagai tangga bagi istrinya yang akan menaiki unta, sebelum beliau sendiri naik ke atas tunggangannya.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki partner
untuk berbagi ceria. Kita rela mengorbankan waktu demi melihatnya bahagia. Sesekali, ajaklah pasangan kita untuk
berlomba dan bercanda. Bukankah dulu Rasulullah pernah
mengajak istrinya berlomba lari? Sesekali, ajaklah pasangan kita melihat hiburan yang diperbolehkan. Bukankah Rasulullah pernah mengajak istrinya melihat permainan anak-anak Habasyah? Bercanda dan bermain perlu kita lakukan agar cinta dan kasih sayang antara kita terus berkembang.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki sahabat
untuk berbagi. Mulai saat ini, ada telinga yang selalu siap mendengarkan keluh kesah kita tentang dunia, sehingga perasaan kita kembali lega. Ada hati untuk mencurahkan perasaan kita, sehingga kesedihan kita sedikit demi sedikit akan terobati. Ada bahu tempat kita bersandar dan meletakkan
sejenak gejolak jiwa, sehingga sedikit demi sedikit menjadi
reda. Untuk para istri, berusaha meneladani istri-istri Rasulullah. Kuatkan hati para suami yang sedang cemas hatinya, seperti Khadijah yang menguatkan hati Rasulullah saat menerima wahyu pertama. Berikan saran ketika suami sedang bingung dengan persoalannya, seperti Ummu Salamah yang memberi saran kepada Rasulullah dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Kalau akad sudah terucap maka kita punya pekerjaan baru:
membangun surga bersama pasangan kita. Menyusun bata demi bata, menegakkan pilar demi pilar, dan memasang atap dan pagar untuk keluarga kecil kita. Itulah surga kita. Karena ini pekerjaan ukhrawi, murnikanlah niat kita. Karena ini pekerjaan berat, berdoalah senantiasa kepada Tuhan kita. Karena ini pekerjaan rumit, teladanilah selalu kehidupan Rasulullah. Semoga Allah menurunkan berkah yang melimpah bagi rumah tangga kita. Amin!

PESAN UNTUK PARA SUAMI (dan CALON SUAMI)

“Dalam hadits ini, terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya. Karena, istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan yang mulia, akhlak yang baik, perbuatan yang baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. 

Jika seorang pria bersikap demikian maka ia adalah orang yang paling baik, namun jika sebaliknya maka ia telah berada di sisi yang lain, yaitu sisi keburukan. Banyak orang yang terjatuh ke dalam kesalahan ini. Inilah penjelasan Muhammad bin Ali Asy-Syaukani dari hadits di gambar tulisan ini.

Engkau melihat seorang pria yang jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang paling buruk akhlaknya, pelit, dan sedikit kebaikannya. Namun, jika ia bertemu dengan orang lain, ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tak diragukan lagi, barangsiapa demikian akhlaknya, ia telah terhalang dari petunjuk Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”

Karena kita ingin menjadi yang terbaik, kita harus berusaha untuk selalu tersenyum. Sering-seringlah mengucapkan terima kasih kepada istri. Kalau salah jangan sungkan meminta maaf. Bicaralah dengan kalimat yang santun. Berikan pujian yang bisa memberi semangat. Lakukan yang terbaik untuk membahagiakan hatinya. Semuanya insya Allah
bernilai kebaikan di mata Allah. Bahkan, bercanda dengannya akan dinilai sebagai kebaikan di sisi-Nya.

Rasulullah bersabda, “ Segala sesuatu selain zikrullah
adalah permainan dan kesia-siaan, kecuali empat hal, yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (memanah), dan seseorang yang berlatih renang.”(HR. AnNasa`i)

Bagaimana kita ingin ibu kita diperlakukan dengan baik oleh ayah kita, seperti itulah hendaknya kita memperlakukan istri kita.

Bagaimana kita ingin kelak suami putri kita berakhlak mulia kepadanya, seperti itulah hendaknya kita berakhlak mulia kepada istri kita.

Memperlakukan bidadari kita dengan akhlak yang baik, untuk hal yang kita senangi, dan kita berusaha memperlakukannya dengan akhlak yang baik pula untuk hal yang tidak kita senangi. Di sinilah tantangannya.

Dalam Surat An-Nisa`, Allah berpesan, “Bergaullah dengan istri-istri kalian secara patut. Bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS. An-Nisa`: 19)

Karenanya, BUAT para calon suami, bersabarlah! Jangan membenci istrimu, meski ada satu atau dua sikap dan ucapannya yang membuatmu tidak senang. Kalau masakan istrimu terlalu asin, jangan lantas membencinya. Bukankah senyumannya selalu meneduhkanmu? Bukankah dia telah menjaga dan merawat anak-anakmu? Jika ada satu atau dua sifat istrimu yang kurang pas, jangan pula membencinya.

Bukankah banyak kebaikan-kebaikan yang sudah diberikannya untukmu? Ingat-ingatlah saat ta’aruf dulu, apa sifat dan kebaikannya yang membuatmu memilihnya? Bukankah itu
lebih besar nilainya dibanding secuil sifat yang tak kau sukai?

Engkau para calon suami, Rasulullah juga berpesan untukmu, “Janganlah seorang Mukmin membenci seorang Mukminah. Jika ia tidak suka satu perangainya maka (bisa jadi)
ia ridha dengan perangainya yang lain,” (HR. Muslim).

Jika sifat istrimu yang tak kau suka itu melanggar syariat atau tidak baik di mata Islam maka kewajibanmulah memberinya pengertian.

Ibnu Abbas berkata, “Berikanlah pengetahuan agama kepada mereka (istri dan anak) dan
berikanlah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka…”
Berusahalah memperbaiki akhlaknya dengan cara yang lembut. Dengan keteladanan. Dengan kasih sayang.

Perhatikanlah hal ini wahai suami dan calon suami...

6 Pilar Meraih Kebahagiaan Pernikahan

Untuk bisa meraih kebahagiaan hidup berumah tangga, harus dimulai sejak dari proses pernikahannya.

1. Niat yang benar dan kuat.

Menikahlah dengan niat ibadah, melaksanakan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah Saw. Niat yang ikhlas karena Allah menjadi pondasi kebahagiaan.

2. Persiapan yang cukup.

Bukan sekedar pingin nikah, namun harus memiliki kesiapan secara spiritual, mental, moral, intelektual, finansial serta kesiapan fisik.

3. Proses yang sesuai tuntunan agama.

Kebaikan dan kelurusan proses pernikahan menjadi pilar penting untuk merealisasikan niat ibadah tersebut. Jangan ada pelanggaran dan kemaksiatan sepanjang prosesnya, karena anda tengah menunaikan ibadah.

4. Penjagaan hati selama proses pernikahan.

Kebersihan hati sangat penting untuk memunculkan kebahagiaan dalam kehidupan. Jangan mengotori hati dengan pemuasan syahwat sebelum menikah. Jaga diri, dia belum halal bagi anda sebelum akad nikah.

5. Memilih calon dengan kriteria kebaikan agama.

Jangan terpedaya oleh kecantikan, ketampanan, kekayaan, penampilan dan hal-hal fisik serta materi lainnya. Yang paling utama adalah kebaikan agama yang bisa dilihat dari kebaikan akhlaknya.

6. Komitmen untuk saling menguatkan dalam keimanan, ibadah dan kebaikan.

Suami dan istri harus saling menguatkan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah di atas landasan iman. Mereka memiliki komitmen untuk hidup dalam kebaikan, saling mengingatkan dan menguatkan untuk menegakkan ibadah serta amal kebajikan.



Sabtu, 22 November 2014

Sesungguhnya Amal dan Perbuatan itu Tergantung dari Niat

Bismillahir Rahmannir Rahim

Rasulullah SAW bersabda :

Sesungguhnya orang yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat ialah seorang syuhada (orang yang mati syahid ), dia akan dihadapkan kepada Allah. Maka Allah akan memperlihatkan kenikmatan Nya dan diapun mengakui kenikmatan itu. Allah bertanya,” Karena apa kamu berbuat demikian ?”.
Dia menjawab, “ Saya berperang karena Mu, sehingga saya gugur syahid”. Jika dia seorang munafik,Allah berfirman,” Kamu dusta ! Kamu berperang karena ingin disebut pahlawan.” Maka diperintahkan agar orang itu diseret wajahnya kemudian dilemparkan kedalam neraka.

Kemudian orang yang belajar dan mengajarkan ilmu agama dan orang yang suka membaca Al Qur’an dihadapkan kepada Allah. Maka Allah akan memperlihatkan kenikmatan kenikmatan Nya dan diapun mengakuinya. Allah bertanya,” Karena apa kamu berbuat demikian ?” Dia menjawab,” Saya belajar ilmu dan mengajarkannya, serta membaca Al Qur’an semata – mata kerena Engkau”. Jika dia seorang munafik, Allah berfirman,” Kamu dusta ! Kamu mempelajari ilmu dan mengajarkannya supaya disebut ulama. Dan kamu membaca Al Qur’an supaya dipanggil Qori’ dan kamu sudah mendapatkannya !”. Kemudian diperintahkan agar orang itu diseret wajahnya dan dicampakkan kedalam api neraka.

Dan terakhir, seorang yang dikaruniai harta kekayaan oleh Allah. Maka Allah memperlihatkan kenikmatan kenikmatan Nya dan diapun mengakui kenikmatan kenikmatan itu. Allah bertanya,” Apa yang telah kamu lakukan dengan harta kekayaanmu itu ?” Dia menjawab,” Saya tidak membiarkan satu jalanpun yang pantas diberi infak, kecuali saya infakkan harta saya semata mata karena Engkau.” Jika dia seorang munafik, Allah berfirman,” Kamu dusta ! kamu berbuat demikian supaya kamu dipanggil dermawan, dan kamu sudah mendapatkannya.” Maka diperintahkan agar orang orang itu diseret wajahnya kemudian dicampakkan ke dalam neraka.” ( HR Imam Muslim dalam kitab Misykat )

Na’udzubillah…

So, sekecil apapun amalan kita, maka niatkanlah hanya semata-mata karena Allah SWT..

Ya Allah, Jangan Pisahkan Hati Kami

Ya ALLAH..
Jika benar dia adalah yang terbaik untukku, satukanlah aku dan dia sampai akhir hayat kami. Jika dia yang terbaik untukku, kekalkanlah hingga keakhir nafas kami. Dan dekatkanlah hatiku dengan hatinya. Andai telah ditakdirkan dia jodohku, maka dia aku terima seadanya..

LoveuKomarudinRomadona