Tampilkan postingan dengan label Romantisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romantisme. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Januari 2015

Agar Suami Istri Makin Mesra

Berhubungan intim dengan suami atau istri tak hanya menyalurkan hasrat seksual. Lebih jaun lagi membangun hubungan emosional yang dalam. Bahkan ikatan tersebut bisa menjadi salah satu faktor pendukung untuk mencapai kepuasan.

Dr Wei Siang Yu menyebutkan bahwa secara mental pasangan tersebut harus dalam kondisi rileks dan memiliki rangsangan atau stimulasi psikologis untuk satu sama lain. ''Ikatan emosional pasangan harus kuat,'' ujar dokter yang banyak berpraktik di dunia maya melalui situs www.loveairways.com yang dikelolanya.

Lebih lanjut Wei menjelaskan bahwa hubungan emosional tersebut mampu memengaruhi proses fisiologis dan psikologis pada tubuh manusia. Sebagai contoh, ketika seorang wanita dalam kondisi stres karena tekanan pekerjaan atau tekanan dalam rumah tangga.

Saat stres siklus hormon wanita tersebut melambat sehingga akan mengubah waktu dan irama jalinan hubungan antara dia dengan suaminya. ''Demikian pula halnya dengan pria, ketika pria stres, proses ereksi akan terganggu yang tentunya memengaruhi proses hubungan seksual pasangan tersebut,'' ujar lulusan terbaik Monash University ini.

Selain kepuasan seksual yang berkaitan dengan posisi vagina, lebar pelvis, dan kelengkungan tulang belakang, Wei menyarankan kepada pasangan untuk tidak memiliki masalah-masalah sosial seperti masalah keuangan, stres pekerjaan ataupun orang ketiga. ''Karena hal ini yang bisa membuat kualitas orgasme dan keintiman menjadi berkurang,'' katanya.

Sementara itu menurut Dr Anita Gunawan MS, hubungan emosional yang terjalin baik itu juga termasuk adanya komunikasi yang lancar antara pasangan suami istri. Ditambah lagi dengan perlakuan kepada masing-masing pasangan. Pengalaman buruk dalam hal seksualitas bisa mengakibatkan trauma yang nantinya bisa mengurangi kualitas keintiman. ''Dengan komunikasi yang baik sang istri tidak akan merasa diperkosa ketika sedang berhubungan intim,'' ungkapnya.



֎֎֎

Minggu, 04 Januari 2015

KALAU AKAD SUDAH TERUCAP

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri. Dulu, kita mungkin bisa bebas di rumah atau kontrakan kita, karena memang ‘manusianya’ cuma kita. Tapi, sekarang ada sosok istri yang menemani. Jadi, berusahalah meski dengan cara sederhana untuk memberi bukti bahwa kita sungguhsungguh mencintainya. Menambal pakaian sendiri, menyiapkan makanan sendiri, melayani diri sendiri, atau membantu tugas istri, misalnya. Tunjukkan bukti cinta, bukan janji. Bukankah seperti itu teladan Rasul? 

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri. Ada kekasih yang selalu memperhatikan kita. Karenanya, kita harus berusaha berpenampilan menawan untuknya, seperti Rasulullah yang selalu berpenampilan baik, khususnya bagi sang istri. Perhatikan pula kebersihan diri kita. Perhatikan kebersihan gigi dan kesegaran mulut kita. Gunakan parfum untuk menghilangkan bau-bau tak sedap. Perhatikan kerapian dan keindahan pakaian, rambut, dan seluruh penampilan kita. Kita tentu senang berpenampilan bagus untuk kekasih kita, sebagaimana kita senang dia berpenampilan bagus untuk kita.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan punya teman yang selalu menyertai. Berusahalah untuk bersikap baik kepada pasangan kita. Teladanilah Rasulullah, manusia ang mengajarkan kita untuk berakhlak sebaik mungkin kepada pasangannya. Lembutkan cara kita berbicara, haluskan budi pekerti kita, dan sunggingkan selalu senyum kepadanya. Berusahalah untuk mempersembahkan kebaikan kepada kekasihmu.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan memiliki teman yang selalu menanti. Karenanya, mulai saat ini, biasakan untuk selalu memberinya kabar. Kalau kita pulang larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, berilah ia kabar. SMS pun nggak apa, kalau telepon nggak sempat. Sebab kalau nggak, dia bisa susah tidur karena mencemaskan kita. Kalau harus keluar kota beberapa hari, berilah kabar dan hubungi dia selalu.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki kekasih yang romantis. Teladanilah Rasulullah, orang paling romantis yang pernah hidup di muka bumi. Seorang suami yang makan daging dari bekas gigitan istrinya, minum di sisi gelas yang sama dengannya, meletakkan lututnya sebagai tangga bagi istrinya yang akan menaiki unta, sebelum beliau sendiri naik ke atas tunggangannya.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki partner
untuk berbagi ceria. Kita rela mengorbankan waktu demimelihatnya bahagia. Sesekali, ajaklah pasangan kita untuk berlomba dan bercanda. Bukankah dulu Rasulullah pernah mengajak istrinya berlomba lari? Sesekali, ajaklah pasangan kita melihat hiburan yang diperbolehkan. Bukankah Rasulullah pernah mengajak istrinya melihat permainan anak-anak Habasyah? Bercanda dan bermain perlu kita lakukan agar cinta dan kasih sayang antara kita terus berkembang.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki sahabat untuk berbagi. Mulai saat ini, ada telinga yang selalu siap mendengarkan keluh kesah kita tentang dunia, sehingga perasaan kita kembali lega. Ada hati untuk mencurahkan perasaan kita, sehingga kesedihan kita sedikit demi sedikit akan terobati. Ada bahu tempat kita bersandar dan meletakkan sejenak gejolak jiwa, sehingga sedikit demi sedikit menjadi reda. Untuk para istri, berusaha meneladani istri-istri Rasulullah. Kuatkan hati para suami yang sedang cemas hatinya, seperti Khadijah yang menguatkan hati Rasulullah saat menerima wahyu pertama. Berikan saran ketika suami sedang bingung dengan persoalannya, seperti Ummu Salamah yang memberi saran kepada Rasulullah dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Kalau akad sudah terucap maka kita punya pekerjaan baru: membangun surga bersama pasangan kita. Menyusun bata demi bata, menegakkan pilar demi pilar, dan memasang atap dan pagar untuk keluarga kecil kita. Itulah surga kita. Karena ini pekerjaan ukhrawi, murnikanlah niat kita. Karena ini pekerjaan berat, berdoalah senantiasa kepada Tuhan kita. Karena ini pekerjaan rumit, teladanilah selalu kehidupan Rasulullah. Semoga Allah menurunkan berkah yang melimpah bagi rumah tangga kita. Amin!

Manfaat Menikah Di Usia Muda

Menikah diusia muda adalah sebuah pilihan terbaik dijaman sekarang yang penuh dengan godaan nafsu dunia.

Dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syabab untuk menikah.

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Syabab biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “pemuda.” Berapakah usianya? Muhammad Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera menikah. Dan kini terbukti, banyak manfaat menikah di usia muda di balik perintah Rasulullah ini.

Berikut adalah beberapa manfaat menikah di usia muda.

1. Lebih terjaga dari dosa

Sebagaimana sabda Rasulullah tersebut, menikah di usia muda itu lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina tangan.

2. Lebih bahagia

Hasil riset National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun.

Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”

3. Lebih puas dalam bercinta

Pasangan yang menikah di usia 20-an cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah lebih lambat. Hasil studi Dana Rotz dari Harvard University pada 2011 menunjukkan, menunda usia menikah empat tahun terkait dengan penurunan satu kali jima’ dalam sebulan.

Sedangkan dalam tingkat kepuasan, menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan, sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat farjinya…”

4. Emosi lebih terkontrol

Menikah di usia muda terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.

5. Lebih mudah meraih kesuksesan

Sebagian orang menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah maupun mencari maisyah. Karenanya tidak mengherankan jika banyak orang-orang yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia 20-an.

6. Lebih baik bagi masa depan anak-anak

Lebih baik bagi masa depan anak-anak di sini bukan berarti menikah di usia muda memungkinkan anak sudah dewasa saat Anda pensiun. Meskipun, hal itu juga bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Namun yang lebih penting dari itu, menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat Anda belum mapan secara ekonomi berarti Anda dapat mendidik anak-anak secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan Anda. Dan jangan sampai anak-anak hanya tahu fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.

Wallahu a’lam bish shawab.

6 Pilar Meraih Kebahagiaan Pernikahan

Untuk bisa meraih kebahagiaan hidup berumah tangga, harus dimulai sejak dari proses pernikahannya.

1. Niat yang benar dan kuat.

Menikahlah dengan niat ibadah, melaksanakan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah Saw. Niat yang ikhlas karena Allah menjadi pondasi kebahagiaan.

2. Persiapan yang cukup.

Bukan sekedar pingin nikah, namun harus memiliki kesiapan secara spiritual, mental, moral, intelektual, finansial serta kesiapan fisik.

3. Proses yang sesuai tuntunan agama.

Kebaikan dan kelurusan proses pernikahan menjadi pilar penting untuk merealisasikan niat ibadah tersebut. Jangan ada pelanggaran dan kemaksiatan sepanjang prosesnya, karena anda tengah menunaikan ibadah.

4. Penjagaan hati selama proses pernikahan.

Kebersihan hati sangat penting untuk memunculkan kebahagiaan dalam kehidupan. Jangan mengotori hati dengan pemuasan syahwat sebelum menikah. Jaga diri, dia belum halal bagi anda sebelum akad nikah.

5. Memilih calon dengan kriteria kebaikan agama.

Jangan terpedaya oleh kecantikan, ketampanan, kekayaan, penampilan dan hal-hal fisik serta materi lainnya. Yang paling utama adalah kebaikan agama yang bisa dilihat dari kebaikan akhlaknya.

6. Komitmen untuk saling menguatkan dalam keimanan, ibadah dan kebaikan.

Suami dan istri harus saling menguatkan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah di atas landasan iman. Mereka memiliki komitmen untuk hidup dalam kebaikan, saling mengingatkan dan menguatkan untuk menegakkan ibadah serta amal kebajikan.

SETIA TERINDAH

Setiap hari, kakek dalam foto itu selalu berkunjung ke sebuah panti tempat istrinya yang menderita parkinson dirawat. Kakek itu sendiri sudah berumur 80 tahun, dan sebagaimana kakek-kakek pada umumnya, kesehatannya sudah banyak menurun.
Meski jarak antara rumah dan panti tersebut terbilang jauh, sang kakek tak pernah sekali pun absen mengunjunginya. Ia tetap berangkat pagi-pagi dari rumahnya demi bertemu dan menghabiskan beberapa jam bersama istri tercintanya, orang yang telah sabar dan setia mendampinginya.

Penasaran dengan rutinitas sang kakek yang selalu menyempatkan datang ke tempat itu, orang yang memotret mereka berdua bertanya apakah istrinya merasa gundah jika ia terlambat datang. Sang kakek menjawab bahwa istrinya sudah tidak bisa lagi mengingatnya. Ia sudah tidak ingat lagi suaminya itu sejak lima tahun yang lalu.

Dengan penuh heran, orang yang memotret itu kembali bertanya, ”Anda masih saja pergi kemari untuk menyuapinya padahal ia sudah tidak mengenal Anda?”

Sambil tersenyum, kakek itu menjawab, ”Dia memang sudah tidak mengenali saya, tetapi saya tetap mengenalinya.”

BUNGKUS dan ISI

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari & mengurus BUNGKUS-nya saja serta
mengabaikan & mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya?.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..
"Keluarga bahagia" itu isinya...

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
"Cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya...

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
"Tidur nyenyak" itu isinya...

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...

"Makan enak" hanya bungkusnya..
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...

"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Kenyataan" itu isinya...

"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...

"Jabatan" hanya bungkusnya..
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya..

"Kharisma" hanya bungkusnya..
"Karakter" itu isinya...

"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...

Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...

Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari
BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..

Janganlah mati-matian mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati.


ROMANTIS ITU . . .

Romantis itu....
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah.Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...

Semoga kita semua dianugerahi keluarga penuh cinta dan bahagia.

Inginku Sempurnakan Separuh Agamaku

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Kata Imam Ghozali, "Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”


Selasa, 19 Juni 2012

Kasih Putih


Begitu romantisnya ketika kita mengejar ombak pantai yg pasang surut.

Apakah begitu indah cinta kasih kita tertulis dipantai pasir putih,
Sungguh aku tak menginginkan itu kasih,
Ketika ombak pasang datang.. ia menerjangnya..
Ketika ombaknya surut, ia menghapusnya.

Apakah kamu tak pernah lelah utuk menulisnya lagi,
Sementara itu mendatangkan kebosananku,
yg tak mampu aku tuk menolaknya.
Lalu apakah kamu tega melihat cinta ini perih,
diterpa ombak mengandung kadar garam yg tinggi.

Apakah kamu memang senangi gelombang cintamu..
Mengarah pada mata angin yg tak tentu arah...
Kamu masih bermain diombaknya...
Sementara kamu tak hiraukan aku disini...
Ketika kamu meriakan asmaramu dihadapanku..
Dan aku disini tak mampu memalingkan muka hingga tergores luka.

Kenapa kamu tak goreskan cintamu dihatiku..
dan biarkan aku goreskan cintaku dihatimu..
Dan biarkan menyatu pada ikatkan jalinan cinta kasih putih.
Tampilkan postingan dengan label Romantisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romantisme. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Januari 2015

Agar Suami Istri Makin Mesra

Berhubungan intim dengan suami atau istri tak hanya menyalurkan hasrat seksual. Lebih jaun lagi membangun hubungan emosional yang dalam. Bahkan ikatan tersebut bisa menjadi salah satu faktor pendukung untuk mencapai kepuasan.

Dr Wei Siang Yu menyebutkan bahwa secara mental pasangan tersebut harus dalam kondisi rileks dan memiliki rangsangan atau stimulasi psikologis untuk satu sama lain. ''Ikatan emosional pasangan harus kuat,'' ujar dokter yang banyak berpraktik di dunia maya melalui situs www.loveairways.com yang dikelolanya.

Lebih lanjut Wei menjelaskan bahwa hubungan emosional tersebut mampu memengaruhi proses fisiologis dan psikologis pada tubuh manusia. Sebagai contoh, ketika seorang wanita dalam kondisi stres karena tekanan pekerjaan atau tekanan dalam rumah tangga.

Saat stres siklus hormon wanita tersebut melambat sehingga akan mengubah waktu dan irama jalinan hubungan antara dia dengan suaminya. ''Demikian pula halnya dengan pria, ketika pria stres, proses ereksi akan terganggu yang tentunya memengaruhi proses hubungan seksual pasangan tersebut,'' ujar lulusan terbaik Monash University ini.

Selain kepuasan seksual yang berkaitan dengan posisi vagina, lebar pelvis, dan kelengkungan tulang belakang, Wei menyarankan kepada pasangan untuk tidak memiliki masalah-masalah sosial seperti masalah keuangan, stres pekerjaan ataupun orang ketiga. ''Karena hal ini yang bisa membuat kualitas orgasme dan keintiman menjadi berkurang,'' katanya.

Sementara itu menurut Dr Anita Gunawan MS, hubungan emosional yang terjalin baik itu juga termasuk adanya komunikasi yang lancar antara pasangan suami istri. Ditambah lagi dengan perlakuan kepada masing-masing pasangan. Pengalaman buruk dalam hal seksualitas bisa mengakibatkan trauma yang nantinya bisa mengurangi kualitas keintiman. ''Dengan komunikasi yang baik sang istri tidak akan merasa diperkosa ketika sedang berhubungan intim,'' ungkapnya.



֎֎֎

Minggu, 04 Januari 2015

KALAU AKAD SUDAH TERUCAP

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri. Dulu, kita mungkin bisa bebas di rumah atau kontrakan kita, karena memang ‘manusianya’ cuma kita. Tapi, sekarang ada sosok istri yang menemani. Jadi, berusahalah meski dengan cara sederhana untuk memberi bukti bahwa kita sungguhsungguh mencintainya. Menambal pakaian sendiri, menyiapkan makanan sendiri, melayani diri sendiri, atau membantu tugas istri, misalnya. Tunjukkan bukti cinta, bukan janji. Bukankah seperti itu teladan Rasul? 

Kalau akad sudah terucap maka kita tidak lagi seorang diri. Ada kekasih yang selalu memperhatikan kita. Karenanya, kita harus berusaha berpenampilan menawan untuknya, seperti Rasulullah yang selalu berpenampilan baik, khususnya bagi sang istri. Perhatikan pula kebersihan diri kita. Perhatikan kebersihan gigi dan kesegaran mulut kita. Gunakan parfum untuk menghilangkan bau-bau tak sedap. Perhatikan kerapian dan keindahan pakaian, rambut, dan seluruh penampilan kita. Kita tentu senang berpenampilan bagus untuk kekasih kita, sebagaimana kita senang dia berpenampilan bagus untuk kita.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan punya teman yang selalu menyertai. Berusahalah untuk bersikap baik kepada pasangan kita. Teladanilah Rasulullah, manusia ang mengajarkan kita untuk berakhlak sebaik mungkin kepada pasangannya. Lembutkan cara kita berbicara, haluskan budi pekerti kita, dan sunggingkan selalu senyum kepadanya. Berusahalah untuk mempersembahkan kebaikan kepada kekasihmu.

Kalau akad sudah terucap maka kita akan memiliki teman yang selalu menanti. Karenanya, mulai saat ini, biasakan untuk selalu memberinya kabar. Kalau kita pulang larut malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan, berilah ia kabar. SMS pun nggak apa, kalau telepon nggak sempat. Sebab kalau nggak, dia bisa susah tidur karena mencemaskan kita. Kalau harus keluar kota beberapa hari, berilah kabar dan hubungi dia selalu.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki kekasih yang romantis. Teladanilah Rasulullah, orang paling romantis yang pernah hidup di muka bumi. Seorang suami yang makan daging dari bekas gigitan istrinya, minum di sisi gelas yang sama dengannya, meletakkan lututnya sebagai tangga bagi istrinya yang akan menaiki unta, sebelum beliau sendiri naik ke atas tunggangannya.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki partner
untuk berbagi ceria. Kita rela mengorbankan waktu demimelihatnya bahagia. Sesekali, ajaklah pasangan kita untuk berlomba dan bercanda. Bukankah dulu Rasulullah pernah mengajak istrinya berlomba lari? Sesekali, ajaklah pasangan kita melihat hiburan yang diperbolehkan. Bukankah Rasulullah pernah mengajak istrinya melihat permainan anak-anak Habasyah? Bercanda dan bermain perlu kita lakukan agar cinta dan kasih sayang antara kita terus berkembang.

Kalau akad sudah terucap maka kita memiliki sahabat untuk berbagi. Mulai saat ini, ada telinga yang selalu siap mendengarkan keluh kesah kita tentang dunia, sehingga perasaan kita kembali lega. Ada hati untuk mencurahkan perasaan kita, sehingga kesedihan kita sedikit demi sedikit akan terobati. Ada bahu tempat kita bersandar dan meletakkan sejenak gejolak jiwa, sehingga sedikit demi sedikit menjadi reda. Untuk para istri, berusaha meneladani istri-istri Rasulullah. Kuatkan hati para suami yang sedang cemas hatinya, seperti Khadijah yang menguatkan hati Rasulullah saat menerima wahyu pertama. Berikan saran ketika suami sedang bingung dengan persoalannya, seperti Ummu Salamah yang memberi saran kepada Rasulullah dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Kalau akad sudah terucap maka kita punya pekerjaan baru: membangun surga bersama pasangan kita. Menyusun bata demi bata, menegakkan pilar demi pilar, dan memasang atap dan pagar untuk keluarga kecil kita. Itulah surga kita. Karena ini pekerjaan ukhrawi, murnikanlah niat kita. Karena ini pekerjaan berat, berdoalah senantiasa kepada Tuhan kita. Karena ini pekerjaan rumit, teladanilah selalu kehidupan Rasulullah. Semoga Allah menurunkan berkah yang melimpah bagi rumah tangga kita. Amin!

Manfaat Menikah Di Usia Muda

Menikah diusia muda adalah sebuah pilihan terbaik dijaman sekarang yang penuh dengan godaan nafsu dunia.

Dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para syabab untuk menikah.

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Syabab biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “pemuda.” Berapakah usianya? Muhammad Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera menikah. Dan kini terbukti, banyak manfaat menikah di usia muda di balik perintah Rasulullah ini.

Berikut adalah beberapa manfaat menikah di usia muda.

1. Lebih terjaga dari dosa

Sebagaimana sabda Rasulullah tersebut, menikah di usia muda itu lebih membantu menundukkan pandangan dan lebih mudah memelihara kemaluan. Seorang yang menikah di usia muda relatif lebih terjaga dari dosa zina; baik zina mata, zina hati, maupun zina tangan.

2. Lebih bahagia

Hasil riset National Marriage Project’s 2013 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, persentase tertinggi orang yang merasa sangat puas dengan kehidupan pernikahan adalah mereka yang menikah di usia 20-28 tahun.

Mengapa pasangan muda lebih bahagia? Sebab mereka umumnya belum memiliki banyak ego-ambisi. Pasangan muda lebih mudah menerima pasangan hidupnya. Bahkan, ketika sang suami belum mapan secara ekonomi dan akibatnya hidup “pas-pasan”, mereka tetap bisa enjoy dengan kondisi tersebut. Hal ini sejalan dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah oleh kalian gadis perawan, sebab (..salah satunya..) ia lebih ridha dengan nafkah yang sedikit.”

3. Lebih puas dalam bercinta

Pasangan yang menikah di usia 20-an cenderung melakukan jima’ lebih sering daripada mereka yang menikah lebih lambat. Hasil studi Dana Rotz dari Harvard University pada 2011 menunjukkan, menunda usia menikah empat tahun terkait dengan penurunan satu kali jima’ dalam sebulan.

Sedangkan dalam tingkat kepuasan, menikah di usia muda –diantaranya dengan dukungan fisik yang masih prima- membuat suami istri lebih menikmati. Lagi-lagi, hal ini bersesuaian dengan hadits atsar Ibnu Umar: “Nikahilah gadis perawan, sebab ia lebih segar mulutnya, lebih subur rahimnya dan lebih hangat farjinya…”

4. Emosi lebih terkontrol

Menikah di usia muda terbukti lebih cepat mendewasakan pasangan tersebut. Dalam arti, menikah dan berumah tangga membuat seseorang lebih terkontrol emosinya. Ini dipengaruhi oleh ketenangan yang hadir sejalan dengan adanya pendamping dan tersalurkannya “kebutuhan batin.” Dan itulah diantara makna sakinah dalam Surat Ar Rum ayat 21.
Hasil studi sosiolog Norval Glenn dan Jeremy Uecker pada tahun 2010 mendukung hal ini. Menurut hasil studi tersebut, menikah pada usia muda akan lebih bermanfaat dari sisi kesehatan dan mengontrol emosi.

5. Lebih mudah meraih kesuksesan

Sebagian orang menunda menikah dengan alasan mencapai jenjang karir tertentu atau hidup mapan terlebih dahulu. Padahal, saat seseorang telah menikah, ia menjadi lebih tenang, merasakan sakinah. Dengan ketenangan dan stabilnya emosi ini, ia bisa lebih fokus dalam meniti karir dan beraktifitas apa pun, baik dakwah maupun mencari maisyah. Karenanya tidak mengherankan jika banyak orang-orang yang sukses di usia 40-an adalah mereka yang menikah di usia 20-an.

6. Lebih baik bagi masa depan anak-anak

Lebih baik bagi masa depan anak-anak di sini bukan berarti menikah di usia muda memungkinkan anak sudah dewasa saat Anda pensiun. Meskipun, hal itu juga bisa menjadi salah satu pertimbangan.

Namun yang lebih penting dari itu, menikah di usia muda dan memiliki buah hati di usia muda, saat Anda belum mapan secara ekonomi berarti Anda dapat mendidik anak-anak secara langsung merasakan pahit getirnya kehidupan. Artinya mereka telah mencicipi perjuangan Anda. Dan jangan sampai anak-anak hanya tahu fasilitas dan hidup enak tanpa merasakan hidup adalah perjuangan.

Wallahu a’lam bish shawab.

6 Pilar Meraih Kebahagiaan Pernikahan

Untuk bisa meraih kebahagiaan hidup berumah tangga, harus dimulai sejak dari proses pernikahannya.

1. Niat yang benar dan kuat.

Menikahlah dengan niat ibadah, melaksanakan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah Saw. Niat yang ikhlas karena Allah menjadi pondasi kebahagiaan.

2. Persiapan yang cukup.

Bukan sekedar pingin nikah, namun harus memiliki kesiapan secara spiritual, mental, moral, intelektual, finansial serta kesiapan fisik.

3. Proses yang sesuai tuntunan agama.

Kebaikan dan kelurusan proses pernikahan menjadi pilar penting untuk merealisasikan niat ibadah tersebut. Jangan ada pelanggaran dan kemaksiatan sepanjang prosesnya, karena anda tengah menunaikan ibadah.

4. Penjagaan hati selama proses pernikahan.

Kebersihan hati sangat penting untuk memunculkan kebahagiaan dalam kehidupan. Jangan mengotori hati dengan pemuasan syahwat sebelum menikah. Jaga diri, dia belum halal bagi anda sebelum akad nikah.

5. Memilih calon dengan kriteria kebaikan agama.

Jangan terpedaya oleh kecantikan, ketampanan, kekayaan, penampilan dan hal-hal fisik serta materi lainnya. Yang paling utama adalah kebaikan agama yang bisa dilihat dari kebaikan akhlaknya.

6. Komitmen untuk saling menguatkan dalam keimanan, ibadah dan kebaikan.

Suami dan istri harus saling menguatkan untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah di atas landasan iman. Mereka memiliki komitmen untuk hidup dalam kebaikan, saling mengingatkan dan menguatkan untuk menegakkan ibadah serta amal kebajikan.

SETIA TERINDAH

Setiap hari, kakek dalam foto itu selalu berkunjung ke sebuah panti tempat istrinya yang menderita parkinson dirawat. Kakek itu sendiri sudah berumur 80 tahun, dan sebagaimana kakek-kakek pada umumnya, kesehatannya sudah banyak menurun.
Meski jarak antara rumah dan panti tersebut terbilang jauh, sang kakek tak pernah sekali pun absen mengunjunginya. Ia tetap berangkat pagi-pagi dari rumahnya demi bertemu dan menghabiskan beberapa jam bersama istri tercintanya, orang yang telah sabar dan setia mendampinginya.

Penasaran dengan rutinitas sang kakek yang selalu menyempatkan datang ke tempat itu, orang yang memotret mereka berdua bertanya apakah istrinya merasa gundah jika ia terlambat datang. Sang kakek menjawab bahwa istrinya sudah tidak bisa lagi mengingatnya. Ia sudah tidak ingat lagi suaminya itu sejak lima tahun yang lalu.

Dengan penuh heran, orang yang memotret itu kembali bertanya, ”Anda masih saja pergi kemari untuk menyuapinya padahal ia sudah tidak mengenal Anda?”

Sambil tersenyum, kakek itu menjawab, ”Dia memang sudah tidak mengenali saya, tetapi saya tetap mengenalinya.”

BUNGKUS dan ISI

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari & mengurus BUNGKUS-nya saja serta
mengabaikan & mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya?.

"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..
"Keluarga bahagia" itu isinya...

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
"Cinta kasih, pengertian, dan tanggung jawab" itu isinya...

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
"Tidur nyenyak" itu isinya...

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...

"Makan enak" hanya bungkusnya..
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...

"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Kenyataan" itu isinya...

"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...

"Jabatan" hanya bungkusnya..
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya..

"Kharisma" hanya bungkusnya..
"Karakter" itu isinya...

"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...

Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...

Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari
BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..

Janganlah mati-matian mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati.


ROMANTIS ITU . . .

Romantis itu....
Ketika malam tinggal sepertiga, seorang istri terbangun. Ia berwudhu, menunaikan shalat dua rakaat. Lalu membangunkan suaminya. “Sayang… bangun… saatnya shalat.” Maka mereka berdua pun tenggelam dalam khusyu’ shalat dan munajat.

Romantis itu…
Ketika seorang istri mengatakan, “Sebentar lagi adzan, Sayang…” Lalu sang suami melangkah ke masjid, menunaikan tahiyatul masjid. Tak ketinggalan ia menunaikan dua rakaat fajar. Maka ia pun menjadi pemenang; lebih baik dari dunia seisinya.

Romantis itu…
Ketika suami berangkat kerja, sang istri menciumnya sambil membisik mesra, “Hati-hati di jalan, baik-baik di tempat kerja sayang… kami lebih siap menahan lapar daripada mendapatkan nafkah yang tidak halal”

Romantis itu…
Ketika suami istri terpisah jarak, tetapi keduanya saling mendoakan di waktu dhuha: “Ya Allah, jagalah cinta kami, jadikanlah pasangan hidup dan buah hati kami penyejuk mata dan penyejuk hati, tetapkanlah hati kami dalam keimanan, teguhkanlah kaki kami di jalan kebenaran dan perjuangan, ringankanlah jiwa kami untuk berkorban, maka mudahkanlah perjuangan dan pengorbanan itu dengan rezeki halal dan berkah dariMu”

Romantis itu…
Ketika suami sibuk kerja, saat istirahat ia sempat menghubungi istrinya. Mungkin satu waktu dengan menghadirkan suara. Mungkin hari lainnya dengan WA dan SMS cinta. “Apapun makanan di kantin kantorku, tak pernah bisa mengalahkan masakanmu.” Lalu sang istri pun membalasnya, “Masakanku tak pernah senikmat ketika engkau duduk di sebelahku.”

Romantis itu…
Ketika menjelang jam pulang kerja, sang suami sangat rindu untuk segera pulang ke rumah dan bertemu istrinya. Pada saat yang sama, sang istri merindukan belahan jiwanya tiba.

Romantis itu…
Ketika suami mengucap salam, sang istri menjawabnya disertai. Bertemu saling mendoakan. Tangan dicium, pipi dikecup bergantian.

Romantis itu…
Ketika suami tiba di rumah, istri menyambutnya dengan wajah cerah dan bibir merekah. Maka hilanglah segala penat dan lelah. Beban kerja di pundak mendadak menghilang, terbang.

Romantis itu…
Ketika syukur selalu menghiasi makan bersama. Meski menu sederhana, nikmat begitu terasa, keberkahan pun memenuhi seluruh keluarga.

Romantis itu…
Ketika suami istri kompak mengajar anak mengaji. Meski telah ada TPQ, sang ayah dan sang ibu tidak berlepas diri dari tanggung jawab mencetak generasi Rabbani. Kelak, merekalah yang mendoakan sang orang tua, saat perpisahan selamanya telah tiba masanya.

Romantis itu…
Ketika sang istri tidak berat melepas suami. Keluar rumah. Untuk mengaji, atau aktifitas dakwah.Sebab sang istri ingin suaminya menjadi imam baginya, juga bermanfaat bagi Islam dan umatnya...

Semoga kita semua dianugerahi keluarga penuh cinta dan bahagia.

Inginku Sempurnakan Separuh Agamaku

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 625)

Kata Imam Ghozali, "Umumnya yang merusak agama seseorang ada dua hal yaitu kemaluan dan perutnya. Menikah berarti telah menjaga diri dari salah satunya. Dengan nikah berarti seseorang membentengi diri dari godaan syaithon, membentengi diri dari syahwat (yang menggejolak) dan lebih menundukkan pandangan.”


Rabu, 27 November 2013

Selasa, 19 Juni 2012

Kasih Putih


Begitu romantisnya ketika kita mengejar ombak pantai yg pasang surut.

Apakah begitu indah cinta kasih kita tertulis dipantai pasir putih,
Sungguh aku tak menginginkan itu kasih,
Ketika ombak pasang datang.. ia menerjangnya..
Ketika ombaknya surut, ia menghapusnya.

Apakah kamu tak pernah lelah utuk menulisnya lagi,
Sementara itu mendatangkan kebosananku,
yg tak mampu aku tuk menolaknya.
Lalu apakah kamu tega melihat cinta ini perih,
diterpa ombak mengandung kadar garam yg tinggi.

Apakah kamu memang senangi gelombang cintamu..
Mengarah pada mata angin yg tak tentu arah...
Kamu masih bermain diombaknya...
Sementara kamu tak hiraukan aku disini...
Ketika kamu meriakan asmaramu dihadapanku..
Dan aku disini tak mampu memalingkan muka hingga tergores luka.

Kenapa kamu tak goreskan cintamu dihatiku..
dan biarkan aku goreskan cintaku dihatimu..
Dan biarkan menyatu pada ikatkan jalinan cinta kasih putih.