Perlu dipahami bahwa dzikir itu bukan hanya di
lisan.
Kita tahu
bagaimanakah keutamaan berdzikir. Namun dzikir yang utama bukan hanya di lisan.
Dzikir yang baik adalah dengan lisan disertai perenungan dalam hati.
Adapun dalam
doa, kita diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
memohon pada Allah supaya rajin berdzikir. Hal ini dapat terlihat pada wasiat
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Mu’adz berikut ini.
Dari Mu’adz
bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah memegang tangannya lalu berkata,
يَا
مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ
“Wahai
Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, sungguh aku mencintaimu.”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam selanjutnya bersabda,
أُوصِيكَ
يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى
عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Aku
memberikanmu nasehat, wahai mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan saat di
penghujung shalat (di akhir shalat setelah sama) bacaan doa: Allahumma a’inni
‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam
berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu).”
Disebutkan
di akhir hadits,
وَأَوْصَى
بِذَلِكَ مُعَاذٌ الصُّنَابِحِىَّ وَأَوْصَى بِهِ الصُّنَابِحِىُّ أَبَا عَبْدِ
الرَّحْمَنِ.
“Mu’adz
mewasiatkan seperti itu pada Ash Sunabihi. Lalu Ash Shunabihi mewasiatkannya
lagi pada Abu ‘Abdirrahman.” (HR. Abu Daud no. 1522 dan An Nasai no. 1304. Al
Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Mengenai
dzikir yang hakiki diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah sebagai
berikut.
“Dzikir bukanlah hanya sekedar menggerakkan lisan,
dzikir mestilah berbarengan antara hati dan lisan.”
Jika
disertai hati, dzikir pada Allah berarti ada perenungan terhadap nama dan
sifat-Nya. Dzikir tersebut pun mengandung perenungan terhadap perintah dan
larangan-Nya. Dzikir pada Allah juga mengandung dzikir dengan mengingat kalam
atau firman-Nya.
Seperti di
atas bisa terwujud jika seseorang mengenal Allah dengan baik, beriman pada-Nya,
mengimani sifat-Nya yang sempurna, mengakui akan keagungan-Nya, serta
memuji-Nya dengan berbagai macam sanjungan. Itu semua bisa dicapai jika
seseorang mentauhidkan Allah dengan benar.
Dzikir yang
hakiki melazimkan hal-hal di atas seluruhnya. Namun dzikir yang hakiki bisa
terwujud bila seseorang mengingat nikmat dan karunia-Nya, serta merenungkan
bagaimanakah kasih sayang Allah (ihsan) pada makhluk-Nya.” (Al Fawaid,
hal. 193).
Semoga kita
dimudahkan dalam berdzikir dengan hati dan lisan.
“Allahumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik,
artinya: Ya Allah, tolonglah kami dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang
baik pada-Mu.”
Wa
billahit taufiq.
֎֎֎
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa tinggalkan pesan, kritik dan sarannya.. Makasih ^_^