Ada beberapa
kesalahan ketika bersedekah yang bisa menjadikan amalan kita sia-sia. Apa saja
kesalahan tersebut?
1-
Bersedekah tidak ikhlas, atas riya’ dan sum’ah
Di antara
yang membuat sedekah tidak diterima adalah sedekah yang dilakukan tidak ikhlas.
Ada yang bersedekah namun ingin disebut sebagai orang yang dermawan atau ingin
cari pujian tinggi. Padahal amalan yang diterima adalah amalan yang ikhlas
karena Allah. Karena sedekah adalah ibadah yang mulia. Jika tidak dimurnikan
ibadah tersebut hanya untuk Allah, maka ibadah tersebut jadi sia-sia.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا
أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya (artinya: ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya
mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama
yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5).
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda tentang bahaya riya’ (gila pujian)
bahwasanya amalan pelaku riya’ tidaklah dipedulikan oleh Allah. Dalam hadits
qudsi disebutkan,
قَالَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Allah
Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam
perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku
akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan
syiriknya” (HR. Muslim no. 2985).
Imam Nawawi rahimahullah menuturkan,
“Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil
yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih
Muslim, 18: 115).
Ibnul Qayyim
dalam Al Fawaid mengatakan, “Tidak mungkin dalam hati seseorang menyatu antara
ikhlas dan mengharap pujian serta tamak pada sanjungan manusia kecuali bagaikan
air dan api.”
Seperti kita
ketahui bahwa air dan api tidak mungkin saling bersatu, bahkan keduanya pasti
akan saling membinasakan. Demikianlah ikhlas dan pujian, sama sekali tidak akan
menyatu. Mengharapkan pujian dari manusia dalam amalan pertanda tidak ikhlas.
Ada yang
menanyakan pada Yahya bin Mu’adz, “Kapan seorang hamba disebut berbuat ikhlas?”
“Jika keadaanya mirip dengan anak yang menyusui. Cobalah lihat anak tersebut
dia tidak lagi peduli jika ada yang memuji atau mencelanya”, jawab Yahya.
Muhammad bin
Syadzan berkata, “Hati-hatilah ketamakan ingin mencari kedudukan mulia di sisi
Allah, namun di sisi lain masih mencari pujian dari manusia”. Maksud beliau
adalah ikhlas tidaklah bisa digabungkan dengan selalu mengharap pujian manusia
dalam beramal.
Ada yang
berkata pada Dzun Nuun Al Mishri rahimahullah, “Kapan seorang hamba bisa
mengetahui dirinya itu ikhlas?” “Jika ia telah mencurahkan segala usahanya
untuk melakukan ketaatan dan ia tidak gila pujian manusia”, jawab Dzun Nuun.
2-
Bersedekah hanya untuk mendapatkan ganti di dunia
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ
كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ
أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ
لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا
وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16
“Barangsiapa
yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat,
kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di
dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Dalam ayat
lain disebutkan,
مَنْ
كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ
الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang
siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu
baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan
kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu
bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)
Ats Tsauri
berkata, dari Mughiroh, dari Abul ‘Aliyah, dari Ubay bin Ka’ab -radhiyallahu
‘anhu-, beliau mengatakan,
بَشِّرْ
هَذِهَ الأُمَّةُ بِالسِّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّيْنِ وَالتَّمْكِيْنِ فِي
الأَرْضِ فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ الآخِرَةِ لِلدُّنْيا لَمْ يَكُنْ لَهُ
فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيْبٍ
“Berilah
kabar gembira pada umat ini dengan kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di
muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yang melakukan amalan akhirat untuk meraih
dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.” (HR. Ahmad
5: 134. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Qotadah
mengatakan, “Barangsiapa yang dunia adalah tujuannya, dunia yang selalu dia
cari-cari dengan amalan sholehnya, maka Allah akan memberikan kebaikan
kepadanya di dunia. Namun ketika di akhirat, dia tidak akan memperoleh kebaikan
apa-apa sebagai balasan untuknya. Adapun seorang mukmin yang ikhlash dalam beribadah
(yang hanya ingin mengharapkan wajah Allah), dia akan mendapatkan balasan di
dunia juga dia akan mendapatkan balasan di akhirat.” (Lihat Tafsir Al
Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)
Niat seseorang ketika beramal ada beberapa macam:
a- Jika
niatnya adalah murni untuk mendapatkan dunia ketika dia beramal dan sama sekali
tidak punya keinginan mengharap wajah Allah dan kehidupan akhirat, maka orang
semacam ini di akhirat tidak akan mendapatkan satu bagian nikmat pun. Perlu
diketahui pula bahwa amalan semacam ini tidaklah muncul dari seorang mukmin.
Orang mukmin walaupun lemah imannya, dia pasti selalu mengharapkan wajah Allah
dan negeri akhirat.
b- Jika niat
seseorang adalah untuk mengharap wajah Allah dan untuk mendapatkan dunia
sekaligus, entah niatnya untuk kedua-duanya sama atau mendekati, maka semacam
ini akan mengurangi tauhid dan keikhlasannya. Amalannya dinilai memiliki
kekurangan karena keikhlasannya tidak sempurna.
c- Adapun
jika seseorang telah beramal dengan ikhlash, hanya ingin mengharap wajah Allah
semata, akan tetapi di balik itu dia mendapatkan upah atau hasil yang dia ambil
untuk membantunya dalam beramal (semacam mujahid yang berjihad lalu mendapatkan
harta rampasan perang, para pengajar dan pekerja yang menyokong agama yang mendapatkan
upah dari negara setiap bulannya), maka tidak mengapa mengambil upah tersebut.
Hal ini juga tidak mengurangi keimanan dan ketauhidannya, karena semula dia
tidak beramal untuk mendapatkan dunia. Sejak awal dia sudah berniat untuk
beramal sholeh dan menyokong agama ini, sedangkan upah yang dia dapatkan adalah
di balik itu semua yang nantinya akan menolong dia dalam beramal dan beragama.
(Lihat Al Qoulus Sadiid karya Syaikh As Sa’di, hal. 132-133)
Adapun amalan yang seseorang lakukan untuk
mendapatkan balasan dunia ada dua macam:
a- Amalan
yang tidak disebutkan di dalamnya balasan dunia. Namun seseorang melakukan
amalan tersebut untuk mengharapkan balasan dunia, maka semacam ini tidak
diperbolehkan bahkan termasuk kesyirikan.
Misalnya:
Seseorang melaksanakan shalat Tahajud. Dia berniat dalam hatinya bahwa pasti
dengan melakukan shalat malam ini, anaknya yang akan lahir nanti adalah
laki-laki. Ini tidak dibolehkan karena tidak ada satu dalil pun yang menyebutkan
bahwa dengan melakukan shalat Tahajud akan mendapatkan anak laki-laki.
b- Amalan
yang disebutkan di dalamnya balasan dunia. Contohnya adalah silaturrahim dan
berbakti kepada kedua orang tua. Semisal silaturrahim, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ
أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ
رَحِمَهُ
“Barangsiapa
senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali
silaturrahim (hubungan antar kerabat).” (HR. Bukhari no. 5986 dan Muslim
no. 2557)
Jika
seseorang melakukan amalan semacam ini, namun hanya ingin mengharapkan balasan
dunia saja dan tidak mengharapkan balasan akhirat, maka orang yang melakukannya
telah terjatuh dalam kesyirikan. Namun, jika dia melakukannya tetap
mengharapkan balasan akhirat dan dunia sekaligus, juga dia melakukannya dengan
ikhlas, maka ini tidak mengapa dan balasan dunia adalah sebagai tambahan nikmat
untuknya karena syari’at telah menunjukkan adanya balasan dunia dalam amalan
ini.
3-
Mengungkit-ungkit sedekah dan menyakiti penerimanya
Allah Ta’ala berfirman,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (QS. Al
Baqarah: 264).
Ibnu Katsir
menjelaskan, “Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sedekah menjadi sia-sia
hanya karena si pemberi mengungkit-ungkit sedekah yang telah ia beri dan ia
menyakiti yang menerima. Seseorang tidak mendapatkan pahala sedekah akibat
melakukan dua kesalahan tersebut.”
Dalam hadits
disebutkan pula,
عَنْ
أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ثَلاَثَةٌ لاَ
يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ
يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى
الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ
بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ ».
“Dari Abu
Dzar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Ada tiga orang
yang pada hari kiamat tidak akan diajak bicara, tidak dilihat dan tidak
disucikan serta baginya siksa yang pedih.” Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa
sallam mengulanginya sampai tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka
sengsara dan merugi. Lantas siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,
“Lelaki yang berpakaian isbal (menjulurkan celana di bawah mata kaki), orang
yang mengungkit-ungkit kebaikannya setelah memberi, serta orang yang melariskan
dagangannya dengan sumpah yang palsu.” (HR. Muslim no. 106).
4- Tidak
merahasiakan sedekah
Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ
تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا
الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika
kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu
menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka
menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu
sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Baqarah: 271).
Syaikh As
Sa’di ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Jika sedekah tersebut
ditampakkan dengan tetap niatan untuk meraih wajah Allah, maka itu baik. Dan
seperti itu sudah mencapai maksud bersedekah. Namun jika dilakukan secara
sembunyi-sembunyi, maka itu lebih baik. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa sedekah
yang dilakukan sembunyi-sembunyi lebih utama daripada dilakukan secara
terang-terangan. Namun jika tidak sampai bersedekah karena ia maksud
sembunyikan, maka tetap menyampaikan sedekah tadi secara terang-terangan itu
lebih baik. Jadi semuanya dilakukan dengan kembali melihat maslahat.”
Kata Ibnu
Katsir berkata bahwa tetap bersedekah dengan sembunyi-sembunyi itu lebih afdhol
karena berdasarkan hadits,
Dari Abu
Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمْ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ
الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ
فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ
وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ
فَقَالَ: إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ
شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ
عَيْنَاهُ
“Ada
tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada hari
di mana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata,
1-
Imam (pemimpin) yang adil.
2- Pemuda
yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya.
3-
Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid.
4- Dua
orang yang saling mencintai karena Allah, di mana keduanya berkumpul dan
berpisah karena Allah.
5- Dan
seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang berkedudukan
lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan, “Sungguh aku takut kepada Allah.”
6-
Seseorang yang bersedekah lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya.
7- Dan
orang yang berdzikir kepada Allah di waktu sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Bukhari no. 660
dan Muslim no. 1031).
Hadits di
atas menunjukkan bahwa keutamaan sedekah yang dilakukan secara
sembunyi-sembunyi. Para ulama mengatakan bahwa inilah yang berlaku pada sedekah
sunnah, secara sembunyi-sembunyi itu lebih utama. Cara seperti itu lebih dekat
pada ikhlas dan jauh dari riya’. Adapun zakat wajib, dilakukan secara
terang-terangan itu lebih afdhol. Demikian pula shalat, shalat wajib dilakukan
terang-terangan, sedangkan shalat sunnah lebih afdhol sembunyi-sembunyi karena
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik
shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.”
Para ulama
katakan bahwa penyebutan tangan dan kiri di sini hanyalah ibarat yang
menggambarkan sedekahnya benar-benar dilakukan secara diam-diam. Tangan kanan
dan kiri, kita tahu begitu dekat dan selalu bersama. Ini ibarat bahwa sedekah
tersebut dilakuan secara sembunyi-sembunyi. Demikian kata Imam Nawawi dalam Syarh
Shahih Muslim.
5- Tidak
bersedekah saat badan sehat dan merasa sayang terhadap harta
Dari Abu Hurairah,
ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, lalu ia berkata,
يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ
وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ
تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ،
وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »
“Wahai
Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau
bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat
kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah
itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata,
“Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak
si fulan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no.
1032).
Yang
dimaksud keadaan sehat di sini adalah dalam keadaan tidak tertimpa sakit.
Adapun pelit atau syahihyang dimaksud adalah pelit ditambah punya
rasa tamak.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan
bahwa orang pelit itu ketika dalam keadaan sehat. Jika ia berbaik hati
bersedekah dalam keadaan sehat seperti itu, maka terbuktilah akan benarnya
niatnya dan besarnya pahala yang diperoleh. Hal ini berbeda dengan orang yang
bersedekah saat menjelang akhir hayat atau sudah tidak ada harapan lagi untuk
hidup, maka sedekah ketika itu masih terasa kurang berbeda halnya ketika sehat.
(Syarh Shahih Muslim, 7: 112)
Ibnul Munir
menyampaikan bahwa ayat yang dibawakan oleh Imam Bukhari sebelum hadits di atas
menunjukkan larangan menunda-nunda untuk berinfak dan supaya menjauhi panjang
angan-angan. Juga di dalamnya diajarkan supaya bersegera dalam sedekah, jangan
suka menunda-nunda. Dinukil dari Fathul Bari, 3: 285.
Ayat yang
dibawakan adalah firman Allah,
وَأَنْفِقُوا
مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ
“Dan
belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang
kematian.” (QS. Al Munafiqun: 10).
Dan firman
Allah,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ
يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ
“Hai
orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki
yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak
ada lagi jual beli” (QS. Al Baqarah: 254).
Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
“Hadits di atas mendorong supaya setiang orang berjuang melawan hawa nafsunya
untuk mengeluarkan harta padahal ada sifat pelit dan tamak yang menghalangi.
Ini yang menunjukkan bahwa sedekahnya benar-benar jujur dan kuatnya semangat
orang yang melakukannya.” (Fathul Bari, 3: 285).
Ada lagi
kesalahan lainnya dalam bersedekah, yaitu tidak membiasakan diri untuk
mengeluarkan harta, bersedekah tanpa kerelaan hati, kikir terhadap diri sendiri,
dan bersedekah dengan harta haram.
6- Tidak
membiasakan diri untuk memberi
Kita pun
sering merasakan bahwa sedekah dan berkorban dengan harta adalah dua hal yang
terasa berat bagi jiwa. Sebab, hati kita tercipta dengan tabiat mencintai harta
dan senang akan kenikmatan dunia.
Allah Ta’ala berfirman,
زُيِّنَ
لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ
الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ
وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ
عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ (14) قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ ذَلِكُمْ
لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ
وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (15) الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا
آَمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (16)
“Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di
dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah:
“Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”
Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya.
Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan
Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya
Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami
dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 14-16)
Ibnu Katsir
mengatakan bahwa manusia itu dihiasi dirinya untuk mencintai syahwat dunia,
terkhusus hal-hal yang disebutkan dalam ayat, itulah bentuk syahwat yang terbesar.
Yang selain disebutkan di atas itu mengikutinya. Demikian kata beliau ketika
menafsirkan ayat di atas.
Kenginginan
dan syahwat terhadap dunia di atas yang harus dikuasai dan dikendalikan. Jadi
bukan emosi dan keinginan yang menguasai dirinya. Oleh karena itulah, sifat
kikir diatasi dengan melatih jiwa untuk berkorban dan membiasakannya unutk
bersikap pemurah. Sebab, kemuliaan hanya diraih dengan kedermawanan dan
kemurahan hati untuk memberi. Barangsiapa tidak mendidik jiwanya untuk
berkorban dan berjiwa pemurah, maka berderma bukan perkara ringan baginya, ia
tidak akan bisa bersedekah dengan mudah dan tanpa beban.
7-
Bersedekah tanpa kerelaan hati
Niat adalah
tiang amal. Di antara sebab tidak diterimanya suatu amalan adalah karena
mengeluarkan harta tersebut dengan berat hati. Inilah yang terdapat pada orang
munafik. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا
مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا
بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا
يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ
“Dan
tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya
melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak
mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan
(harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (QS. At Taubah: 54).
Allah Ta’ala
telah mengabarkan bahwa Dia tidak akan menerima kecuali dari yang thoyyib (yang
halal) dan dilakukan dengan kerelaan hati si pemberi. Oleh karenanya, Allah
tidak menerima sedekah dan tidak menerima amalan dari orang yang melakukan
seperti itu. Allah hanyalah menerima amalan dari orang yang bertakwa, yang
melakukannya dengan kerelaan hati.
8- Bakhil
(kikir) terhadap diri sendiri
Allah Ta’ala berfirman,
هَا
أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ
يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ
وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ
ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
“Ingatlah,
kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah.
Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia
hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan
kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling
niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan
seperti kamu ini.” (QS. Muhammad: 38).
Apa yang
disedekahkan oleh manusia hakekatnya adalah simpanan untuk mereka. Mereka akan
mendapatkan harta itu lagi ketika mereka butuh. Jika seseorang bakhil (kikir),
sejatinya mereka kikir terhadap diri mereka sendiri. Senyatanya mereka
mengurangi simpanan mereka sendiri. Mereka menghalangi diri sendiri dengan
menikmati harta tersebut.
Ingatlah,
وَأَقْرِضُوا
اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ
عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan
berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang
kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah
sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al
Muzammil: 20).
9-
Bersedekah dengan harta haram
Dari Abu
Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّهَا
النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
“Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan
menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik).” (HR. Muslim no.
1015). Yang dimaksud dengan Allah tidak menerima selain dari yang thoyyib (baik)
telah disebutkan maknanya dalam hadits tentang sedekah. Juga dari Abu Hurairah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ
يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ
بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ
حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ
“Tidaklah
seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal
melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu
Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta
betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR.
Muslim no. 1014).
Para ulama
berselisih pendapat dalam masalah bersedekah dengan harta haram. Intinya, jika
dinamakan sedekah, tetap tidak diterima karena Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
لاَ
تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ
“Tidaklah
diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram)”
(HR. Muslim no. 224).Ghulul yang dimaksud di sini adalah harta yang
berkaitan dengan hak orang lain seperti harta curian. Sedekah tersebut juga
tidak diterima karena alasan dalil lainnya yang telah disebutkan, “Tidaklah
seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal
melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu
Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta
betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu” (HR.
Muslim no. 1014). Lihat bahasan Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh
Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 92-93.
10- Tidak
memanfaatkan kondisi, waktu dan tempat yang utama untuk bersedekah
Ada beberapa
waktu, kondisi atau tempat di mana sedekah bisa berlipat ganda, seharusnya
setiap orang perhatian dengannya:
a- Saat masa
krisis, bencana dan kebutuhan hidup melilit.
Allah Ta’ala berfirman,
فَلَا
اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ
(13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14)
“Tetapi
dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan
yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau
memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al Balad: 11-14). Memberi makan
ada hari “dzi masghobah”, maksudnya adalah pada masa kelaparan, ketika makanan
menjadi langka, di masa semua kebutuhan terfokus pada makanan. Lihat Tafsri
Ath Thobari, 15: 255.
b- Saat
peristiwa yang menakutkan seperti saat terjadi gerhana matahari atau saat
peperangan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ
الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ
أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ
وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah.
Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang.
Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah,
kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044 dan Muslim no.
901)
c- Sepuluh
hari pertama Dzulhijjah
Dari Ibnu
‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ
أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ
الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ
الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ
إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak
ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang
dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para
sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang
berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“
(HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no.
1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai
syarat Bukhari-Muslim). Sedekah termasuk amalan yang baik yang dilakukan di
awal Dzulhijjah.
d- Bulan
Ramadhan
Dari Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
كَانَ
النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ
أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ
جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى
يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ ،
فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ
مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan
kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan
Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis
salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk
membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu
beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.”
(HR. Bukhari no. 1902 dan Muslim no. 2308).
Guru-guru
dari Abu Bakr bin Maryam rahimahumullah pernah mengatakan,
“Jika tiba bulan Ramadhan, bersemangatlah untuk bersedekah. Karena bersedekah
di bulan tersebut lebih berlipat pahalanya seperti seseorang sedekah di jalan
Allah (fii sabilillah). Pahala bacaaan tasbih (berdzikir “subhanallah”) lebih
afdhol dari seribu bacaan tasbih di bulan lainnya.” (Lihat Lathoif Al
Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428
H, hal. 270.)
11- Tidak
bersedekah saat kekurangan
Dalam hadits
disebutkan,
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ قَالُوا وَكَيْفَ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ
دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ
فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا
Dari Abu
Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu
dirham dapat mengungguli seratus ribu dirham“. Lalu ada yang bertanya,
“Bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?” Beliau jelaskan, “Ada seorang
yang memiliki dua dirham lalu mengambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada
pula seseorang memiliki harta yang banyak sekali, lalu ia mengambil dari
kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan.” (HR. An Nasai no. 2527
dan Imam Ahmad 2: 379. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Nyatalah di
sini, sedekah dari orang miskin yang penuh kekurangan lebih utama dari sedekah
orang kaya yang hartanya melimpah.
Alhamdulillahilladzi
bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Selesailah sudah pembahasan
kesalahan-kesalahan dalam bersedekah. Moga dengan mengetahui hal ini sedekah
kita tidak jadi sia-sia.
֎֎֎
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jangan Lupa tinggalkan pesan, kritik dan sarannya.. Makasih ^_^